Tamu Terakhir Bisa Datang Kapan Saja



Bismillahirrahmannirrahiim,,

Alhamdulillah, senantiasa hamba panjatkan kepada Allah sebagai bentuk syukur karena masih memberikan kesempatan kepada penulis untuk mencurahkan gagasan pemikiran serta saling berbagi kebaikan berupa ilmu kepada setiap sahabat. Juga shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. yang merupakan guru dan teladan terbaik sepanjang jaman.

Postingan kali ini akan sedikit berbeda dari sebelumnya, jika sebelumnya gagasan ane jarang sekali melirik kebuku-buku dan lebih senang membahas setiap pokok dengan arti bahasa, kali ini penulis tertarik merangkum sebuah buku saku ringan, yaitu tentang tamu terakhir. Karena menurut saya ini begitu menarik dan InsyaAllah bermanfaat jika disampaikan.

Saya teringat kisah pada buku "Tamu Terakhir" yang disusun oleh Ustadzah Asmaa Muzayyin, Lc. Tentang seseorang saudagar kaya yang kedatangan tamu. Siapakah tamunya? Tamunya adalah malaikat maut yang menjelma sebagai seorang yang kumuh dan miskin. Lalu orang miskin itu mengetuk pintu rumah,"sebut saja fulan namanya". Orang yang ada didalam rumah itupun segera bergegas membukakan pintu. Setelah dilihatnya tamun itu adalah seorang yang lusuh dan miskin, maka dengan pongah orang yang membukakan pintu itu bertanya "ada perlu apa?". "Sampaikan kepada tuanmu aku ingin menemuinya." kata orang miskin.

Dengan suara yang pelan, orang yang membukakan pintu itu berkata " Pantaskah orang miskin sepertimu menjadi tamu atau menemui tuanku yang kaya lagi terhormat ini?" Maka segera pintu rumah itu ditutup dan orang miskin itupun mengetuk pintu itu lagi.

Dengan pelan orang miskin itu berkata " Aku adalah malaikat maut dan datang kemari untuk menjemput tuan mu si fulan." Seketika orang yang membukakan pintu itu langsung terjatuh lemas dan begitu kagetnya. Maka segera ia masuk dan memberitahukan kepada tuannya.

Tuannya pun kaget dan seisi rumah menjadi hening serta penuh tangis. "Aku akan menjemputmu, sampaikan wasiatmu yang perlu disampaikan." Maka sang tuan pun meminta kepada keluarganya untuk mengumpulkan seluruh hartanya diruang tamu.

Maka uang-uang itu dikeluarkan dari dalam kotak-kotak penyimpannya, lantas tuannya berkata "Laknat atasmu wahai harta! Kamulah yang menyebabkan aku lalai dari Rabbku, dan kamulah yang menyibukkan aku dari amal akhirat hingga aku sampai ke ajalku."

Hartanya pun menjawab ucapan itu, " janganlah engkau mencelaku, tidakkah engkau dulu adalah seorang yang hina dimata manusia dan karena aku dirimu menjadi terhormat!?
Tidakkah terlihat padamu bekas-bekas kebaikanku kepadamu!?
Tidakkah dulu engkau bisa berkumpul bersama para raja dan bangsawan, sedangkan para hamba-hamba yang shalih tidak bisa berkumpul bersama mereka!?
Tidakkah engkau dulu meminang putri para raja dan bangsawan dan engkau dinikahkan dengan mereka, sedangkan ketika dipinang oleh orang-orang yang shalih, mereka tidak mau menikahkan putri-putri mereka!?
Apakah ketika engkau membelanjakan aku dijalan yang buruk aku enggan untuk dibelanjakan!?
Seandainya jika engkau menggunakan aku dijalan Allah, pasti aku tidak akan membangkang darimu.
Engkau lebih hina dariku, sesungguhnya aku dan engkau hanya diciptakan dari tanah. Ada yang beranjak dengan kebaikan, ada juga yang beranjak dengan keburukan."..
Inilah yang dikatakan oleh harta.

Adalah diri kita sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang telah kita perbuat. Kisah tersebut dikutip dari Uddatus Shabirin oleh Ibnul Qayyim, menjadi pelajaran penting bahwa setiap didunia ini memiliki dua hakikat kegunaan. yaitu sebagai sarana kita beribadah dan yang kedua adalah sarana syaitan untuk melalaikan kita terhadap amalan akhirat atau hakikat kita diciptakan di dunia ini.

Maka berhati-hatilah sahabat, jika aktivitas dunia kita menjauhkan kita dari berbuat kebajikan, menghalangi ibadah kita, dan membuat kita lalai. Jika dunia telah menjadi cinta kita, maka dunia tidak hanya membuat kita tertipu, tetapi juga menyesal dikemudian hari. Karena sejatinya dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat gurauan saja, dan tempat kembali kita adalah akhirat.

Tapi apakah mudah mempercayai akan adanya akhirat dan hari akhir. Bagi sebagian orang yang tidak mendapat petunjuk, meyakini hal ini tidaklah mudah. Karena tidak sedikit ayat didalam Al-Quran membicarakan orang-orang yang ingkar terhadap hari berbangkit. Maka bersyukurlah dan senantiasa meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Ini saja yang dapat penulis sampaikan pada tulisan ini, semoga bermanfaat dan bisa menjadi hujjah nantinya ketika penulis dimintai pertanggung jawaban atas ilmu yang Allah berikan kepada penulis. Segala puji bagi Allah, semoga kita termasuk kepada umat nabi Muhammad dan termasuk orang-orang yang Allah beri petunjuk, Berangkatlah Dari Iman, karena Iman ada didalam hati, maka mintalah fatwa kepada hatimu.

Rasa yang Di Nalarkan

Mendung pagi itu, berkemul dengan embun dan cahaya redup di halaman rumah. Sesekali kenangan ini membias mengikuti mentari yang tak kunjung muncul, semangat itu memadam penuh kecurigaan. Masih pagi-pagi, dianya tak kunjung ceria padahal begitu banyak hal menanti untuk dikerjakan.

Ah, lagi-lagi hati ini menyematkan rasa dan jari ini begitu mudah menyampaikan dalam bahasa santun yang menusuk. Ntah bagaimana ia merasa, nyatanya rasa memang mempengaruhi gerak jasmaniyah, nyatanya peran ruhiyah lebih tegas dari peran jasmaniyah. Mungkin karena kendurnya kajian yang diikuti, padahal sudah kularikan pada buku-buku penggugah, tapi ia-nya tetap saja mendiami tempat yang penuh dengan jejak-jejak kepergian.

Baru kemarin sore rasanya ku sambung tali yang mulai memudar, pagi ini ia-nya ingin lebih. Dan lagi-lagi tahu caranya menyekat dan menyesakkan rongga hati. Ah, apakah aku masih bicara cinta, padahal kiranya ia telah lari pergi terakibat aku-nya yang senantiasa memainkan. Ah, aku kira ia-nya telah kapok, sekiranya  aku sudah menempatkannya dengan benar dalam porsi yang tepat. Kenyataannya ia masih gentayangan dan semaunya hadir tanpa permisi.

lama kiranya, setelah tulisan dengan judul merindukanmu sederhana saja, hingga kini baru lagi tertulis sajak penuh akan syarat curahan hati. Mungkin saja bisa jadi pelajaran bagi yang bermain dengan cinta agar senantiasa berhati-hati dalam jeratnya yang mengikat ke dasar bumi. Enggan melangit, meratap pada tepi senja yang sesaat. Penuh dengan dera hujan dan bising dengan suara nasihat. Begitulah dia menjerat, menidurkan kesadaran dalam balutan keduniaan. Menjebak batin dalam lukisan dan ironi ilusi kefanaan.

Sekilas mata ini tersilap cahaya, dan membuka lamunan serta khayalan panjang. Ternyata rasa itu terlalu egois dengan pendapatnya. Teguran paling sederhana, dalam bentuk sapaan ringan, tempat berlari yang tak mau di singgahi, senyum jahat tapi tulus, kejujuran rasa yang bebas tanpa terikat. Dia nya berkata, mungkin kamu sedang lapar. Bibir ini bergetar tak bisa menahan tawa, dan getarnya pun membangunkan jiwa. Ah, iya.. Aku lupa, rasa juga perlu dinalarkan dalam kerja-kerja amal. Bukanlah hayalan penuh dengan kekosongan, kosong dari pembuktian dan kosong dari harapan. Bukanlah sebuah harapan yang menggantung pada dasar yang rendah, tapi harus ke tali yang terhubung melangit, yaitu syariat.

Rasa yang di nalarkan, ia nya pagi ini mampu menyelamatkan asa yang melambung tak jelas. Membangunkan jiwa yang tertidur pulas. Menggugah jasmani yang bergerak malas. Ia nya menggetarkan hati yang mulai tak waras, kata-kata yang mengutuk keras, akal yang hilang terampas, juga khawatir yang menyebabkan was-was.

Rasa yang dinalarkan, disitulah kita hidup. Di alam nyata, bukan di alam rasa. Yang dibenarkan adalah Iman disertai amal shaleh. Bukan iman saja, juga bukan amal shaleh saja. Tapi keduanya dalam satu kepaduan yang sama. Terikat kuat, kekasih yang tak terpisahkan. Iman yang terbukti dengan tindakan berbentuk amal shaleh. Rasa pun demikian, adalah cerminan dari keduanya. Rasapun harus disertai dengan nalar. Dan Nalarpun harus yang sehat, bukan sekedar nalar.

Begitulah rasa yang dinalarkan, berfikirlah sebagai tuan yang bertuhan. Dan merdekalah dalam beriman. Mungkin cukup sekian dalam pembahasan kali ini, bersambung di tulisan berikutnya..


Berorganisasi, kenapa Tidaak ?



Selamat Pagi Sahabat tersayang. Sudah cukup lama nih sudah tidak pernah update blog. Admin lagi asik jalan-jalan gaes. Beberapa waktu lalu adminnya lagi Kerja Praktek disambi ngerjain laporannya. Libur semester ini Admin KKN (Kuliah Kerja Nyata) untuk memenuhi kurikulum. Harap maklum, Admin bukan kuliah dijurusan sastra, jadi untuk nulis ya bukan kerjaan sehari-hari, melainkan harus pinter-pinter nyolong waktu juga mood yang bagus. Kali ini Admin ingin berbagi mengenai hikmah dan manfaat mengikuti Organisasi nih.

Filosofi Patah Hati

Assalamualaikum warrahmatullah wabarrakaatuh

Ehm... Lama nih tidak meposting tulisan ke blog yang luarbiasa ini. Apa kabar semua sahabat-sahabat setia pembaca blogku (kayak udah favorit saja ya)?
Karena akhir-akhir ini banyak yang curhat tentang patah hati sekaligus penulis yang juga suka nulis patah hati karena si dia. Tidak cuma sekali, tetapi berkali-kali mendengar istilah patah hati ini dari temen-temen.

Bahkan tak cuma mendengar, tetapi juga pernah menamai sebuah rasa dengan istilah patah hati.

Ya, tentu kita mengenal istilah ini akibat adanya pengarang drama pada setiap media hiburan yang kita lihat.

Yang paling mudah sebagai contoh adalah Film. Mari ambil dari drama korea yang sempet ngetren di indonesia yaitu Boys Before Flower. (ini bahas patah hati apa drama korea ya..?)

Bagaimana dua orang kekasih yang sedang jatuh cinta, awalnya yang dekat dengan Jan Di adalah Ji Hoo. Namun ternyata Jun Pyo tertarik dengan Jan Di dan jatuh cinta. Jan Di pun tak menyangkal bahwa lama-lama ia juga jatuh hati pada Jun Pyo. Namun tentu Ji Hoo disini tidak mungkin tidak ada rasa apa-apa. Ternyata Ji Hoo juga diam-diam memendam rasa kepada Jan Di. Namun akhirnya Ji Hoo harus merelakan Jan Di untuk Jun Pyo. Disini pasti orang menganggap bahwa Ji Hoo patah hati terhadap Jan Di.
(ini review Film Korea ya..?)

Tentunya inti dari pembahasan ini bukanlah review dari drama korea BBF, tetapi review diatas sekedar menunjukan bagaimana kita sebagai penikmat film digiring untuk mempercayai rasa akibat dicampakkan oleh seseorang sebagai patah hati. Apakah itu yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta tak terbalas, intinya adalah patah itu sekedar nama yang diberikan publik terhadap rasa yang menurut mereka sedemikian rupa.

Namun adakah istilah patah hati di jaman dahulu kala..? 
Mungkin jika kita membaca cerita klasik seperti cinderella dan dongeng-dongeng lain yang kisah nya kita namai sekarang dengan bumbu kalimat patah hati, maka jawabannya adalah ada. Tapi jika kita tengok kapan buku itu ditulis, maka kita tahu bahwa buku itu ditulis akhir-akhir ini. Dalam artian, yang menamai patah hati adalah orang yang menulis nya saat ini. (sekedar pendapat saja).

Apakah kita bisa yakin, mereka dulu menamakan hal ini sebagai patah hati..?
Kalau sakit hati, bisa jadi iya. Karena timbulnya rasa demikian menandakan adanya kecintaan dunia yang sudah diluar kadarnya.

Coba kita ingat kembali kisah dua sahabat, yaitu Salman Al Farisy dan Abu Darda. (hayo, pada inget tidak kisahnya..?)
Singkat ceritanya begini sahabat, ketika itu Salman sudah memasuki umur untuk menikah dan Ia tertarik (jatuh cinta) pada wanita shalihah. Salman Al farisy bukanlah orang Madinah Asli melainkan pemuda yang berasal dari Persia. Sedangkan wanita shalihah ini adalah orang Madinah. Maka, karena tekadnya sudah matang untuk melamar wanita shalihah ini, Ia pun menjumpai satu sahabat baiknya yaitu Abu Darda. Salman meminta saudaranya itu untuk melamarkan wanita shalihah itu untuknya. Abu Darda pun bahagia karena saudaranya ini hendak menjalankan satu syariat islam yaitu menikah. Namun apa yang terjadi ketika proses lamaran itu berjalan, wanita shalihah itu memberikan jawaban yang maksudnya yaitu menolak pinangan Salman Al Farisy dan telah menyiapkan jawaban mengiyakan jika Abu Darda yang melamar dia. Maka pada waktu itu juga, Salman AlFarisy memberikan mahar yang telah disiapkannya kepada saudaranya Abu Darda dan menjadi saksi pernikahan mereka berdua.

Adakah pada waktu itu kata patah hati yang menjumpai Salman Al Farasy? Tentu tidak. Kenapa..?
Tentu saja karena cintanya terhadap wanita shalih itu sewajarnya saja dan jauh dibawah cintanya kepada Allah swt. Jika kita mengambil jawaban ini dan yakin bahwa cinta itu pemberian dari Allah, maka tidak akan istilah patah hati pada seorang yang imannya sekuat dan seteguh sahabat Salman Al Farisy.

Maka jelas sekali, sumber dari munculnya patah hati adalah sakitnya hati seseorang. Boleh jadi penyakitnya adalah kecintaannya terhadap dunia yang kadarnya terlalu tinggi, sedang kepada akhirat kadarnya sedikit. Yuk, bagi kaum korban patah hati marilah kita melawan bersama-sama munculnya penyakit hati itu dalam jiwa kita masing-masing. Mari kita tinggalkan semua maksiat yang kita lakukan, jika tak bisa semuanya sekaligus, maka perlahan-lahan dan serius menjaganya. Seperti halnya mencabuti rumput di halaman yang luas, maka bekas rumput yang sudah tercabuti harus rajin kita periksa agar tak tumbuh lagi selagi kita juga membersihkan lainnya.

Sampai pada kesimpulannya, patah hati adalah sekedar penamaan kebanyakan orang terhadap suatu rasa, yang sebenarnya rasa itu adalah sebuah penyakit hati yang harus segera di obati. Sedangkan pada saat ini, patah hati itu di anggap wajar oleh kebanyakan umum. Juga bukan lagi dianggap sebagai penyakit yang perlu disembuhkan. Malah kadang di anggap sebagai alasan untuk menyakiti orang lain dengan alasan bahwa ia telah menyakiti saya (membuat saya patah hati).
Maka saya curiga kalau patah hati itu sengaja dibuat untuk melemahkan generasi muda.

Jadi sahabat-sahabat, jika kalian merasakan apa yang sekarang disebut patah hati, janganlah kalian menyalahkan orang lain yang membuatmu patah hati. Tetapi periksalah hatimu dan segera memohon ampun kepada Allah akan penyakit hati yang hadir itu. Maka jangan sampai patah hati itu membuatmu mematahkan silaturahim, menyakiti orang lain, melakukan maksiat yang lain, dll. Yuk sadarkan diri dan menjadi generasi yang kuat, menjadi generasi penerus yang teguh memegang syariat dan lembut menasehati saudara.
Sekian, tulisan ini pembahasan ini saya buat, sampai jumpa pada tulisan selanjutnya.
Wassalamu'alaikum..

Berbicara Jodoh

Rewrite Jodoh,

Belakangan ini, kepala kayaknya agak banyak kepikiran sesuatu. Ditambah dengan ramainya orang di media sosial dengan hari patah hati nasional atau bahkan internasional. Status isinya itu-itu semua, bahkanlah banyak bener yang manfaatin moment show up. Aduuuhhh,, makin pusing saja deh dengan realita yang terjadi di media sosial Indonesia. Seperti terbukti gitu, kebanyakan penggunna media sosial sekarang itu isinya orang baper semua.hehehe. termasuk yang nulis berarti.?

So, ada beberapa buah pemikiran dan pemahaman baru dikepala ini yang sedang di rewrite atau di tulis ulang, karena pemahaman lama udah kabur. Salah satunya tentang jodoh. Tentunya, paham dasar nya tetap tidak berubah, bahwasannya Jodoh setiap orang itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT. sejak kita dilahirkan didunia, seperti halnya rezeki dan mati. Namun seperti apa jodoh kita, bagaimana pertemuannya, bagaimana kaitan pemahamannya dengan Q.S. An-Nur ayat 26..?

Yang terjadi sekarang, banyak sekali orang yang hijrah atau setidaknya merubah sikapnya untuk bersikap dan berpenampilan baik karena atau supaya mendapat jodoh yang baik pula. Hal ini karena merebaknya kasus-kasus KDRT ataupun berita dimedia tentang ketidak harmonisan keluarga publik figure yang landasan pernikahan hanya sekedar saling suka dan perkara-perkara dunia saja. Maraknya perceraiaan dalam berhubungan dikalangan selebritis, bahkan ini juga sudah banyak ditiru dikalangan masyarakat bawah dan awam. Bahwa pernikahan itu tidak lagi menjadi perkara yang sungguh-sungguh melainkan sebagai perkara dunia yang bisa dimainkan menurut kesukaannya masing-masing.  

Dan juga pemahaman tentang Q.S. An-Nur ayat 26 ini yang di boomingkan keseluruh media sosial, sehingga banyak sekali para saudara dan saudari kita yang segera berbenah dan berhijah agar kasusnya tak sama dengan berita infotaiment di TV. Tentu kita berterimakasih kepada saudara-saudari kita yang telah menyadarkan dan melalui perkara itu banyak saudara-saudari yang ikut berhijrah. Semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi pelopornya dan menjadi pahala yang terus mengalir. Tentu sekarang tugas orang-orang yang telah belajar ilmu adalah mengingatkan kembali tentang Hadist niat, Karena akan sangat sayang bila sadara-saudari kita yang telah berhijrah tetapi masih dengan niat yang keliru. Setidaknya bunyi hadist itu seperti ini :
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Sumber: https://muslim.or.id/21418-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html

Tentunya ini sangat umuum dan saya akan membicarakan menurut pemahaman saya, tetapi pengkajiannya tentu tidak secara tafsir harfiahnya karena saya sendiri tak cukup berilmudalam bahasa arab, saya batasi sekedar pemahaman terjemahannya saja.

Maka jika dikaitkan dengan fenomena hijrah saat ini, indah sekali Allah mengingatkan hamba-Nya. Allah, menunjukan niat terbaik dalam hijrah, " Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya". Ini berarti muara(alasan) akhir terbaik adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah teruskan, "barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya...". Kira-kira balasan apa bagi orang yang salah niatnya..? Jika kita mengumpamakan itu yang berkata kita, tentu kita akan mengatakan, " Pasti engkau termasuk orang-orang yang merugi atau siksaku amatlah keras atau  dll..". Tapi apa kata Allah atas kemaha murahan-Nya? "Maka hijrahnya kepada atau sesuai kemana ia hijrah".

Sepertinya saya cukupkan untuk penjabaran niatnya. Sekarang mari kita kembali membahas perkara jodoh. Dulu, sempat saya berfikir bahwa Allah menetapkan jodoh itu tak hanya satu, tapi ada beberapa. Kalau kita menjadi tidak mau berusaha dan menjadi orang yang begitu saja, maka jodohnya si A. Jika kita menjadi orang baik dan sukses, maka jodohnya si B, dan begitu seterusnya. Maka sempat terfikir bahwasannya, "dia nih harusnya jadi jodoh saya, tapi karena sayanya kurang berusaha Allah tidak memberikannya menjadi jodoh saya". Hal ini memungkinkan, adanya penyesalan ketika kita menyukai seseorang yang levelnya begitu tinggi diatas kita, dan ketika kita berusaha untuk mendapatkan hal tersebut, eh sudah dipinang orang lain terlebih dulu. Bukan perkara tidak boleh berambisi dalam hal keduniaan, tapi mari kita tinjau perkara efektifitas waktu yang kita gunakan di dunia.

Tentu hal diatas akan meninggalkan setidaknya penyesalan yang tidak sebentar, adapun yang sebentar, akan ada waktu, dikala ada celah kesempatan setan berbisik menimbulkan rasa sombong ataupun angkuh ketika orang yang dulu pernah kita harapkan sedang Allah uji dengan kondisi yang sulit(kemiskinan), maka akan sangat mungkin terbesit " coba kamu dulu nikahnya dengan saya ".. Hal ini tentu secara tidak langsung telah merusak Akidah seseorang, bahwasannya jodoh itu sudah ditetapkan, takdir itu sudah ditetapkan pula.

Jodoh menurut saya sekarang, adalah seseorang yang memang sudah ditetapkan secara tetap setetap-tetapnya. Yaitu namanya jelas, fulan dengan fulanah. kadang-kadang kita perlu curiga, ketika kita tiba-tiba ingin berhijrah dan terus menerus memperbaiki diri, padahal kondisi lingkungan tidak memungkinkan kala itu. Curiganya, barangkali orang yang telah ditetapkan bersama kita telah menetapi kebaikan dan berdoa agar segera bertemu. Inilah yang menurut saya lebih mungkin dikatakan penerjemahan dari Q.S. An-Nur ayat 26. "...Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik."

Men-tag seseorang supaya menjadi jodoh kita misal dengan mengatakan kepada seseorang tentang keinginannya tersebut tetapi masih belum siap untuk segera mengkhitbah, adalah suatu hal yang tidak baik. Karena hal tersebut membuat seseorang berharap lebih pada urusan dunia.

Saya jadi terfikir sesuatu, kita boleh saja curiga kepada setiap orang, barangkali itu jodoh kita. Hal ini tentu tidak menyalahi etika cinta, karena hal ini merupakan usaha menjaga bahwa, jodoh adalah benar-benar rahasia Allah. Selain itu juga tidak mencintai seseorang karena orang itu, melainkan karena kebaikannya, sehingga cinta kita tidak berlandaskan sesuatu tataran dunia saja, melainkan iman yang mencintai kebaikan. Mungkin akan saya bahas tentang iman dan cinta pada tulisan selanjutnya.

Cukup ini saja pembahasan tentang jodoh, rewrite pemahaman jodoh yang harus dikejar. Karena jodoh adalah sebuah ketetapan yang sudah pasti, maka ketimbang sibuk memikirkan menjeput jodoh, sibukkan diri berkhidmat menjadi hamba yang taat, bersosial menyerukan kebaikan, menyuruh kepada yang haq dan mencegah kepada yang mungkar. Karena jodoh dan mati adalah perkara yang sudah tetap, lebih baiknya kita mempertahankan rasa was-was kita terhadap datang nya maut. Barangkali maut tidak sampai 1 hari kedepan. Dan juga, perkara curiga diatas dikhusukan untuk para single atau jomblo ya, kalau udah nikah, maka perhatian kita tentu harus terfokus memenuhi hak Allah, Agama, masyarakat, keluarga dan istri/suami(pasangan).

Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat... 

Jatuh Cinta Pada Lilin


Assalamualaikum warahmatullah,,,

Selamat bahagia untuk sahabatku semua, sahabat yang setia membaca tulisan usang dari seorang dengan cita-cita seluas-luasnya. Mungkin dua tulisan terakhirku yang membahas tentang rasa cukup banyak yang dikuras ya perasaannya, karena yang dibahas soal hati. hihihi, tidak apalah karena penulis memangnya suka baper(bawa perasaan). Toh kan rasa itu memang harus ada dalam setiap lini kehidupan yang kita jalani, tetapi jelas baper disini dalam hal yang meningkatkan ketakwaan kepada Allah ya.

Pada kesempatan atau tulisanku kali ini, penulis akan mengungkapkan sesuatu nih sahabat. Teruntuk sahabat semua yang merasa mendapat pesan dan menjadi maksud dari ungkapan ini, semoga Allah mengijinkan turunnya rahmat dan karunia melalui tulisan ini. Yuk, sepertinya tidak perlu banyak-banyak pengantar dari ungkapan yang akan saya tuliskan disini. So, simak baik-baik ya biar bisa memahami apa yang disampaikan penulis..

Ada sebuah ketertarikan yang sudah cukup lama dalam benak ini. Dulunya, saya gemar sekali memandangi bulan diteras rumah sambil merebahkan diri dan melantunkan bait-bait puisi serta renungan terhadap ciptaan yang luar biasa itu. Sesekali saya menyeka dalam hati, dan bertanya "Kesepian kah saya..?". Dikala itu aku hanyalah seorang yang penuh dengan angan-angan dan merasa paling pintar dalam beberapa hal namun tidak jarang merendahkan diri dihadapan dunia. Aku terlalu sering berkonsentrasi pada apa yang menjadi kekuranganku( maksudnya apa yang Allah tidak berikan padaku), sedang sebenarnya aku memiliki suatu yang amazing yang tidak dimiliki orang lain.

Salah satu yang menurutku lebih, adalah kemampuanku memahami pola. Namun pikiranku 7-5 tahun lalu adalah rupaku yang tidak lebih ganteng dari teman-teman yang lain. Selain itu juga tentang kecilnya kepercayaan diri ini terhadap gagasan-gagasan yang muncul begitu menakjubkan dikepala, tetapi tertawan rasa dan logika pesimistis.

Salah duanya, yaitu menjadi seorang laki-laki perasa yang menurutku peka dan memahami perasaan orang lain. Hal ini membuat hati ini mudah berempati terhadap kesedihan orang lain. Kedua hal tersebut membuatku tersita dalam perasaan yang kala itu belum aku pahami maksud dan maknanya. Salah satunya adalah kasus yang ku namai jatuh cintanya aku pada seorang perempuan yang pernah menjadi teman sekelasku. Nah, salah yang kedua menjadi sebab utama terhadap aku 3 tahun lalu. Seorang pemuda yang suka merenungi nasib ketimbang bergerak merubah nasib. Salah yang kesatu hanya bertanggungjawab terhadap ilmu keduniaan seperti sains dan matematika.

Tetapi tak terhindarkan dua salah yang menjadi kelebihanku itu bersatu membentuk suatu kemampuan yang ajaib. Keadaan dan kegemaranku waktu itu, membuatku terlalu sempat mengamati orang lain disekitar dan membentuk intuisi sendiri dalam menyimpulkan sesuatu. Kebiasaan ini yang bertanggung jawab atas mudahnya aku memperkirakan watak seseorang cukup dari memandang matanya dan mendengar bicaranya dalam beberapa detik saja. Dengan itu dapat memperkirakan watak terburuk dan terbaik dengan Asumsi wataknya berada diantara dua batasan tersebut. Tentu ini hanya perkiraan, tetapi kemungkinan melesetnya hanya persoalan faktor x yang memang tersembunyi.

Ungkapan diatas barulah  intro yang berkepanjangan, dengan maksud supaya sahabat-sahabat dapat mengerti sudut pandang saya. Selain, aku pernah mengaku mencintai orang dari masa kecil sampai sekitar kelas 2 SMA. Sampai ku sadari itu hanya masalah prinsip hidup dan pemahaman tentang persepsi. Nyatanya aku memiliki dan menyukai konsep hidup yang sederhana dan komitmen yang kuat. Jika sudah satu prinsip dipegang, maka hal itu dipertahankan semampunya. Dan untuk menggantinya, memerlukan alasan yang kuat dan memang mendesak.

Cukup untuk definisi tentang rasa-rasa dan prinsip hidup yang bersemayam dalam jiwaku ini. Aku, sedang jatuh cinta pada lilin di kegelapan. Sinarnya redup tapi menguning indah dan memancarkan kehangatan kesekililing-nya. Jika engkau melihatnya pada sudut yang tepat, maka akan terlihat indah mempesona. Ya, begitulah aku belajar saat ini. Aku tak seperti matahari yang sinarnya cerah dan selalu diharapkan orang-orang setiap harinya untuk menemani aktivitasnya. Aku juga tak seperti bulan yang cahayanya lembut menenangkan, memberikan kesejukan dan memberikan momen terindah pada mahluk-mahluk hidup yang berada dibawah pancaran sinarnya.

Pada lilinlah aku jatuh cinta saat ini. Ia kecil dan cahaya nya tak memancar seperti matahari ataupun bulan. Ia tidak diharapkan disiang hari maupun dimalam hari biasanya. Tapi iya menjadi sangat berarti ketika gelap malam yang tak ditemani oleh lampu. Ia menjadi penghias dalam sebuah momen romantis pertemuan dua kekasih yang sedang dikarunia cinta. Meskipun kecil, jika ia hidup diwaktu dan momen yang tepat, ia menjadi indah dan begitu bermanfaat. Meskipun nyalanya sementara, ia bisa menggantikan sejenak tugas lampu dan rembulan ketika mereka sedang beristirahat.

Aku jatuh cinta pada lilin kecil yang menyala dikegelapan. Nyalanya memancarkan sinar harapan dalam gelapnya malam. Seperti manusia yang kecil lagi lemah, memilih menyala dikegelapan hiruk pikuk dan fananya dunia, ia kecil dan memancarkan sinar harapan kepada orang yang mencari kebenaran. Meski sementara sinarnya, seperti manusia yang hidupnya pun singkat. Aku jatuh cinta pada lilin kecil yang menyala dalam sepertiga malam, ia menemani sujud seorang hamba yang berserah diri dan penuh harap kepada tuhan-nya, Allah SWT.
Aku jatuh cinta pada lilin kecil yang nyala senyumnya memberikan keterangan untuk kembali meniti jalan yang benar, ditengah bisingnya bisian dunia. Aku mencintai dua lilin kecil yang mendidikku dengan keikhlasan dan penuh harap, yang sinarnya menyalurkan kasih dan sayang dari pencipta-Nya, Allah SWT.

Lilin kecil, menyalalah pada kegelapan dan jadilah indah. Terangi jiwa-jiwa yang mencari kebenaran agar jelas jalan yang ia tempuh.

Antara Malu dan Cemburu

Cemburu Pada Langit







adwan                

Pernah sesekali dapat cerita dari sahabat. Pada suatu kali sahabat ini pernah berjanji dengan seseorang dosen untuk berbicara perihal tugas akhir. Tugas akhir memanglah penting bagi seorang mahasiswa untuk menyudahi masa studi formalnya di tingkat sarjana. Pendek cerita, mereka berjanji bertemu di gedung jam 09.00 am, maka sahabat ini sebisa mungkin ke gedung sebelum jam 09.00 am, malahan 30 menit lebih awal. Namun juga tidak jarang ketika dia janjian dengan temennya, janjianya jam 10.00 am, tapi dia berangkat sudah jam 10.30 am. itupun katanya masih nunggu lama. Sebenarnya ini juga terjadi dengan penulis, karena beberapa hal yang sudah menjadi kebiasaan. Namun ketika penulis yang mengajak ketemuan sebisa mungkin datang sebelum atau setidaknya tepat pada waktu yang dijanjikan, kalupun tidak selalu mengabari kalau datang terlambat.

Hal ini dilakukan karena ada rasa malu yang ada pada diri manusia. Menurut KBBI malu/ma·lu/ a 1 merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya):. Lagi-lagi perkara malu adalah perkara yang berhubungan dengan hati. Tetapi saya akan membahasnya secara rasional tanpa melupakan dengan rasa-rasanya juga. 

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa malu adalah suatu sifat atau karakter yang penting untuk berada didalam manusia. Salah satu dari kisah pemimpin yang terpuji karena sifat pemalunya, bahkan di puji oleh Rasulullah dan juga salah satu sahabat yang telah dijamin masuk surga, adalah Ustman Ibn Affan. Seorang sahabat mulia, kaya, juga pandai menjaga tali silaturahmi. Pernah suatu kali ketika Rasulullah sedang merendamkan kakinya didalam kolam dan Beliau menyisingkan celananya hingga terlihat dengkulnya, lalu ada sahabat yang datang. Adalah Abu Bakar RA yang pertama datang, kemudian Rasulullah mempersilahkan Abu Bakar untuk masuk. Selanjutnya, datang sahabat lagi dan beliau mempersilahkan masuk. Sampai pada saat yang datang Ustman Ibn Affan yang datang, maka beliau berdiri sejenak menurunkan celananya sebelum mempersilahkan Ustman masuk. Sahabatpun bertanya kepada Rasulullah, kira-kira seperti ini kata-katanya, " Ya rasul, kenapa ketika Ustman datang engkau menurunkan celanamu tetapi ketika kami tidak?", "Bagaimana aku tidak malu kepada Usman ibn Affan yang malaikatpun malu kepadanya."
*mungkin ada perbedaan redaksi dari sumbernya, jika ada perbedaan maka ikuti yang kuat sumbernya

Dari sedikit kisah diatas, betapa Rasulullah SAW begitu menjunjung tinggi rasa malu didalam akhlaknya. Mungkin ini cerita yang sudah cukup tinggi objeknya. Jadi untuk kita, cukup sulit untuk menerapkannya dan bisa saja beralasan "mereka kan sahabat yang sudah di jamin surganya, lah kita..?" Wajar seperti ini, maka dari itu saya ingin membahas rasa malu ini melalui sumbernya(hati) dan juga realitanya(pengalaman). 

Rasa malu ini paling mudah kita jumpai pada kehidupan ini adalah cerita yang pertama yaitu tentang dua sahabat yang berjanji dan juga seorang mahasiswa yang berjanji ketemuan dengan seorang dosen. Maka ketika sahabat ini berjanji dengan temannya, maka dia masih menimbang-nimbang untuk datang tepat waktu atau tidak sesuai karakter teman yang dia ajak janjian tersebut. Jika yang diajak janjian adalah tipikal orang tepat waktu, maka kalau sampai terlambat dari janji yang sudah disepakati ada rasa malu yang besar dari sahabat ini. Jika tidak, maka perlu ditanyakan bagaimana kondisi ahlaknya. Tetapi, ketika berjanji dengan dosen atau orang yang memiiki derajat lebih tinggi, sahabat ini akan datang lebih awal meskipun dosen yang diajak janjian datang terlambat jauh dari waktu yang telah disepakati. Kenapa demikian? Kita manusia cenderung menghormati yang lebih tua atau yang lebih hebat menurut pendapatnya masing-masing.

Malu mendorong kita melakukan sesuatu dengan lebih baik. Maka kita dapat menyadari beberapa dari rasa malu ini.

Sahabat, ada beberapa yang menjadi pemikiran saya tentang rasa malu ini. Tidakkah kita, terkhusus yang beragama islam, telah berucap dua kalimat syahadat. Terlebih lagi kita selalu berucap "iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iinu" dalam surat Al-fatihah yang kurang lebih artinya "Hanya kepada Engkau kami berlindung dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan". Minimal bagi yang menjalankan kewajiban berucap itu sebanyak 17 kali. Tapi pernahkah kita merenungkan hal tersebut 

Bagaimana kalau kita melihatnya bagaimana Allah terhadap mahluk-Nya. Saya menemukan tulisan menarik tentang suatu rasa, yaitu cemburu. Cemburu ini juga suatu rasa masalah hati yang salah sebabnya karena cinta. Sama halnya dengan malu, cemburu timbul akibat adanya sikap melebihkan dan ingin dilebihkan dengan bumbu-bumbu pengharapan, sehingga ketika harapan itu diabaikan timbul rasa yang disebut cemburu. Bagaimana dengan Allah..? Yuk simak tulisan ini :

Cemburu merupakan refleksi dari perasaan cinta yang muncul ketika orang yang dicintai melakukan tindakan tidak sesuai. Tidak hanya terjadi pada manusia, ternyata Allah Azza Wajala juga cemburu kepada hamba-Nya. 

Bahkan dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa tidak seorang pun cemburu melebihi dari cemburunya  Allah. Jika manusia bisa begitu murka ketika terbakar cemburu, maka bagaimana dengan cemburunya sang maha pencipta ini? 

Manusia sejatinya harus memahami kecemburuan Allah SWT. Ini untuk menghindari kemurkaan karena manusia sudah terlalu jauh dari-Nya. Caranya adalah dengan  menghindari hal-hal yang membuat Allah SWT cemburu. Lantas apa saja tindakan tersebut? Berikut ulasannya.

Cemburu sebenarnya adalah fitrah manusia dan bukan merupakan sifat Allah yang berbeda dengan makhluk. Kata ini dalam hadist Rasulullah merupakan diksi untuk melukiskan sebuah ilustrasi rasa, kata indah  untuk mendeskripsikan sebuah suasana bahwasannya Dzat Maha Pencipta Allah Aza Wajala yang menggenggam Cinta atas hamba-Nya.

Salah satu yang membuat Allah SWT cemburu adalah ketika manusia berbuat sesuatu yang keji. Hal ini dijelaskan Nabi Muhammad dalam hadis riwayat Bukhari berikut ini. 

“Tidak ada sesuatu yang lebih cemburu selain Allah, karena itu Dia mengharamkan Segala macam kekejian.” (H.R Bukhari). 

Dalam riwayat lain, dari Aisyah Radiyallahu Anha dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah dalam sebuah khutbahnya begitu menggebu-gebu ketika menjelaskan tentang ini. Saat itu terjadi gerhana matahari, setelah shalat bersama sahabat, beliau saw berdiri dalam mimbar dan berpesan panjang, diakhir khutbah itu Rasulullah bersabda yang artinya: 

“…Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan”. (Shahih Muslim No.1499)

Rasulullah saw bersabda; “Tidak ada seorangpun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji” (Bukhari Muslim)


Cinta Allah lah yang sejatinya paling besar kepada hamba-hamba-Nya. Apa yang dicemburui Allah juga merupakan hal-hal yang menjaga kebaikan diri kita di dunia dan akhirat.

Sungguh indah tulisan ini, bagaimana sangkaan kita terhadap Allah harus selalu baik, menyikapi banyaknya Aturan yang Allah tetapkan kepada manusia adalah bentuk dari ke-Maha Pengansih dan ke-Maha Penyayangnya kepada mahluknya. Maka Allah juga memiliki nama yang Maha Malu.

"Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud: 1488 dan at-Tirmidzi: 3556 dan beliau mengatakan: hasan gharib. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud dan Shahih at-Tirmidzi).

Jadi, sifat malu dan cemburu bukanlah suatu hal yang tidak bak, melainkan suatu sifat yang murni muncul dari dalam nurani manusia sebagai refleksi dari penciptanya. Allah menganugrahkan rasa malu dan cemburu pada manusia agar kita paham bagaimana cemburu nya Allah ketika mahluk-Nya tidak lagi berserah diri dan memohon pada-Nya, dan Juga malu apabila tidakmemberi hamba-Nya apa-apa, ketika kita meminta pada-Nya.

Ya, begitulah indahnya. Maka aku cemburu kepada langit yang tidak pernah berbohong dan selalu patuh pada penciptanya, dan Malu pada langit karena tak bisa menjadi taat kepada Allah seperti langit, padahal Allah telah katakan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah.