Pendidikan untuk Para Pekerja - Aku hanya berpikiran demikian



Lanjutan ....

Bagi orang-orang jenius atau juga yang dapat melewati standar parameter sistem pendidikan, maka jenjang selanjutnya adalah masuk di perguruan tinggi. Sistem penerimaan di perguruan tinggi pun tidak kalah kompetitif-nya menyeleksi orang-orang jenius. Orang-orang bersaing masuk Universitas bergengsi dan jurusan yang dapat memanjakan kejeniusan mereka. Sebenarnya, ketika menjadi mahasiswa inilah akhirnya beberapa orang sadar bagaimana mereka berkembang sesungguhnya. Bagi banyak orang kuliah adalah untuk mendapatkan ijazah, karena ijazah menjadi syarat agar bisa menjadi karyawan perusahaan dengan gaji yang besar.

Beberapa orang kuliah karena ikut-ikut temannya dan memiliki banyak waktu menerima semua pemikiran dan tidak mencandu pada patokan sistem untuk menjadi yang terbaik. Beberapa yang lain memaksakan diri karena ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik dan berjuang sampai berdarah-darah agar dapat menaikkan derajat keluarganya. Sayangnya sistem perguruan tinggi, menawarkan dan mengajarkan kita untuk menjadi pekerja keras dan menjadi pekerja murni. Ya walaupun aku tidak menggunakan data statistik tetapi aku berani berkata bahwa sebagian besar lulusan perguruan tinggi di Indonesia menjadi seorang pencari kerja.

Faktanya memang demikian, ketika kuliah kita diberikan begitu banyak tugas dan kita dipaksa untuk menyelesaikannya dengan cepat dan sebaik mungkin. Kita memang didorong untuk melakukan terobosan dan inovasi baru, tetapi selanjutnya kita tidak diajari untuk mengelolanya menjadi sebuah kesempatan untuk memandirikan negara ini. Dalil yang paling sering muncul, bahwa dengan investasi dari luar maka bisa dilakukan percepatan pembangunan, dan perusahaan dari luar negara ini masuk mengelola sumber daya alam yang kita miliki.

Dan sayangnya, sebagian instansi pendidikan yang ada di negara ini menyelenggarakan pendidikannya agar ada orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk bekerja membantu perusahaan para investor ini dan itu mengelolanya dan mengumpulkan banyak emas (harta/uang) dari nya. Ada yang mengatakannya dengan gamblang, bahwa pendidikan negara ini menciptakan babu di negara nya sendiri. Tapi ini hanyalah pendapat orang, dan semua bebas berpendapat di Negara ini. Itu tak sepenuhnya benar juga tak sepenuhnya salah, mungkin mereka yang mengatakan demikian karena mereka telah berusaha untuk mengelola sumber daya yang ada di negara ini namun terhalang oleh banyak hal.

Sistem pendidikan yang diciptakan penuh dengan kompetensi dan syarat yang semakin hari semakin melangit untuk menyeleksi calon mesin penghasil uang para pemilik modal, membentuk parameter nilai yang membuat para mahasiswa tergiur melakukan berbagai upaya. Misalnya, untuk memasuki beberapa perusahaan yang memiliki gaji yang besar, maka harus memiliki IPK(indeks prestasi kumulatif ) diatas 3,00 dari skala 4,00. Maka berbagai cara dilakukan agar mendapat nilai yang besar, bahkan meskipun harus menyontek. Atau ada juga yang benar-benar belajar sehingga mengabaikan yang lainnya. Sehingga pengetahuan dan wawasannya terkurung oleh aktivitas belajarnya yang padat.

Sampai dengan batas tertentu ada orang lain yang gelisah dengan kebiasaan ini dengan menulis suatu tulisan berjudul "IPK adalah candu". Apakah ini menyedihkan atau suatu hal yang wajar, tapi ini cukup membuktikan bahwa pendidikan yang 12 tahun sebelumnya hanya menciptakan orang-orang yang berambisi untuk memperoleh masa depan yang enak, dan itu merupakan sebagai pekerja, apapun pangkatnya. Meski sebagian kecil lainnya memilih lainnya dan menjadi seorang boss.

Sayangnya, kebutuhan akan keuangan di berbagai kalangan, meski kondisi pendidikan yang sudah seperti ini tidak membuat sadar banyak orang bahwa ada yang aneh dengan sistem pendidikan di negeri ini. Bahkan yang dari jurusan pendidikan pun, meskipun mereka sadar bahwa sistem pendidikan di negara ini yang 12 tahun itu penuh dengan kontroversi, bukan malah berusaha memperbaiki malah mencoba untuk berkompetensi kembali memenuhi kebutuhan. Mereka mengajar murid karena gaji, mereka mengajar murid supaya muridnya menjadi pintar dalam bidang ini dan itu agar nanti bisa masuk ke perguruan tinggi dan dapat bersaing dengan persaingan global, dan hanya sedikit yang perhatian terhadap anak-anak yang sangat tak jenius dan memberikan mereka pengarahan untuk melakukan apa yang seharusnya.

Yang lucu lagi, ada yang memanfaatkan kecemasan persaingan global dengan mendirikan bimbel dan kursus-kursus disana dan disini agar dapat bersaing dan belajar lebih banyak lagi. Dan orang pemilik gelar pendidik di negara ini mencari uang dalam instansi ini. Lalu, bagaimana menurut kalian kejamnya sistem pendidikan ini?

Menjadi lulusan dengan bekal nilai tinggi, skill apik, dan prestasi yang membanggakan Intansi Pendidikan Perguruan Tinggi, nyatanya tak menjamin masa depan. Seberapa pun hebat mereka, nyatanya sebagian besar lulusan sukses dan membanggakan secara parameter pendidikan ini, hanyalah menjadi seorang pekerja, meskipun tingkat dan gajinya ada yang besar dan kecil. Lucunya, malah orang-orang yang memiliki nilai dengan standar menengah ke bawah, malah bisa membuat rancangan usaha dan memberikan lapangan kerja. Sampai muncul statement, yang IPKnya di bawah 2,75 an, malah menjadi pengusaha, yang berada kisaran 2,8--3,50 menjadi pekerja dengan gaji yang bervariasi, mulai besar sampai sedang, dan yang IPK nya diatas 3,50 menjadi pendidik/dosen/lainnya. Jadi, sebenarnya sistem di negara ini menciptakan orang-orang pandai atau menciptakan para pekerja yang pandai?

Dan kini aku akhirnya dapat menuliskan sebagian besar dari keresahan pendidikan ini. Semua kegelisahan ini mungkin sudah ada yang pernah menuliskannya, dan sudah begitu banyak solusi yang diajarkan. Tapi kemudian bagaimana selanjutnya kita bertindak dan akan menjadi apa kita, semoga tulisan ini dapat membuat para pembanca kembali memikirkan tentang apa yang mau ia lakukan di bumi Allah, di negara ini. Tentang sistem pendidikannya, tentang kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan manusianya. Dan saya ucapkan Terimakasih, semoga tulisan ini bisa bernilai pahala di sisi Allah Azza wa Jalla...Aamiin

Pendidikan Untuk Para Pekerja - Terus Terang



Saya adalah seorang yang berhasil menyelesaikan studi S1 nya dalam waktu 4,6 tahun, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lama. Tentu dengan indeks kumulatif yang tidak mengecewakan secara angka, tetapi aku tidak dapat bertanggung jawab mengenainya kecuali sedikit saja. Kuliah di jurusan Teknik Elektro, tentang analisis dan rekayasa elektrik, berharap dapat memperoleh peluang kerja yang luas karena semua teknologi yang berkembang saat ini menggunakan listrik. Tapi kenyataannya sampai sekarang saya juga belum dapat memperoleh pekerjaan. Lalu apa yang salah ? Mungkin saya yang salah. Tapi rasanya tidak adil jika saya hanya menyalahkan diri sendiri. Coba kita runut dan mencari benang merahnya sejak pendidikan di negara ini dioperasikan.

Sejak kecil, anak dididik oleh orang tuanya supaya menjadi orang yang memiliki etika dan berbaur masyarakat. Lalu, kemudian di sekolahkan supaya memiliki bekal ilmu dan nantinya dapat memiliki peran atau posisi di masyarakat. Namun beriring waktu berjalan, perkembangan teknologi diberbagai bidang yang pesat, membuat dasar-dasar nilai pendidikan bergeser. Ya, karena ini juga didorong oleh kebutuhan dan keinginan yang mendukung nilai konsumtif  pada masyarakat.

Sejak pendidikan tingkat dasar kita diberikan nilai pendidikan yang sama rata, dengan pelajaran yang sama. Semua coba disetarakan dan dijadikan seragam. Mulai dari standar dan nilainya, pakaiannya, pelajaran yang diberikan. Lalu kesemuanya diberikan peringkat dengan adanya parameter penilaian. Sayangnya parameter penilaian yang digunakan bukan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan kemudian itu yang dijadikan fokus bagaimana anak ini akan diarahkan, apa saja yang bisa ia kembangkan dengan bekal nilai yang segitu. Tetapi nilai dan parameter yang dibuat digunakan untuk merangking/memberi peringkat kepada anak-anak (siswa). Peringkat ini kemudian dijadikan sebagai penilaian bahwa ini adalah anak jenius dan ini adalah anak yang sangat tidak jenius. Anak yang jenius kemudian akan diberi perlakuan khusus, diberi jam tambahan dan diikutkan perlombaan agar dapat bersaing dan siap menjadi pemenang. Lalu bagaimana dengan yang sangat tidak jenius?

Bagi mereka yang tidak jenius akan diperlakukan sebisanya, diminta belajar semampunya. Yang penting bisa lulus sesuai standar, jika tidak lulus maka diusahakan lulus dengan berbagai usaha yang baik. Ya, karena kalau sampai ada anak yang tidak lulus dari sekolah, maka instansi akan mendapat nilai yang tidak baik dan kemungkinan siswa yang mendaftar ke sekolah itu akan berkurang. Tapi bukan itu masalahnya, mereka yang tidak jenius kebanyakan tidak diarahkan kemana kemudian mereka harus mengembangkan diri untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Sehingga mereka kebingungan untuk melanjutkan sekolah, dan ini membuat sebagian siswa tertekan. Masalah lain pun muncul, siswa yang tertekan karena sekolah dengan keterpaksaan, mengalami stress. Mereka pun sebisa mungkin menghilangkan stress dengan berbagai cara, dan tidak sedikit yang melakukan penyimpangan yaitu kenakalan remaja. Dan ini terjadi sampai mereka melampaui pendidikan Sekolah menengah atas.

Upaya pemerintah dalam menangani hal ini sebenarnya juga tak kurang-kurang, yaitu dengan memberi iklan yang begitu banyak dan sosialisasi yang menyeluruh kepada masyarakat. Karena kita juga tidak memungkiri bahwa perlakuan menyimpang juga dikarenakan oleh pesatnya layanan informasi, sehingga semua bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Sayangnya, di lain hal, mungkin di lain  divisi dari pemerintah juga merancang kurikulum yang tidak kalah gilanya. Menaikkan kurikulum dan membebani siswa dengan semakin banyak materi yang sebagian besar dari mereka sebenarnya sudah terbebani dengan materi yang ada, karena mereka siswa yang sangat tidak jenius. 

Alasannya karena persaingan global yang kuat, maka digembor-gemborkan agar siswa belajar lebih giat lagi dalam berkompetensi. Dan lagi-lagi sistem ini membuat manusia yang sangat tidak jenius tersiksa dan tidak bisa melakukan apa-apa setelah lulus dari sekolah. Orang-orang jenius menjadi sebuah mesin hitung yang cepat, mesin analisis yang cerdas dan mesin kerja yang produktif. Jadi sebenarnya orang-orang yang melanjutkan pendidikan dalam sistem ini yang seperti apa?

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada elemen masyarakat yang juga terpengaruh oleh doktrin sistem ini yang sebenarnya penting perannya dalam pendidikan. Adalah orang tua, keluarga dan warga lingkungan tempat seorang anak berkembang. Wejangan-wejangan yang diberikan orang tua untuk membuat anaknya agar terus melanjutkan pendidikan kebanyakan supaya nanti anaknya dapat memperoleh pekerjaan yang baik dan memiliki kehidupan yang mapan. Belum lagi yang memahami pentingnya pendidikan dengan mentah-mentah, bahwa pendidikan anak adalah dengan menyekolahkannya. Jika kita sambungkan dengan mahalnya biaya sekolah, maka ini membuat orangtua bekerja lebih keras, menghabiskan waktu lebih banyak pada pekerjaannya dan justru membuat orang tua juga stress.

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah orang tua yang memiliki stress tinggi ini membawanya ke dalam rumah yang merupakan waktu bertemunya dia dan anaknya. Sehingga anak benar-benar tidak menemui keteduhan di dalam rumah untuk mengurangi stressnya di sekolah, malah mendapatkan tekanan lagi ketika dari orang tuanya dengan mengatakan bahwa biaya sekolahnya mahal, jadi kamu belajar yang giat. Dan lucunya langkah yang diambil pemerintah adalah dengan menambah waktu sekolah sampai sore agar siswa tidak melakukan perbuatan menyimpang. Jadi siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas menyimpanganya para remaja?

Bersambungnya pada part berikutnya.

MENJADI MAHASISWA BARU



Setelah lulus SMA, sudah pengumuman lulus, dan juga sudah diterima di Perguruan Tinggi. Dan langkah selanjutnya yang dilakukan adalah dengan mengikuti peraturan yang telah dibuat. Salah satunya mengurusi administrasi dan menyelesaikan segala urusan di SMA dulu. Kuliah, menjadi pilihan ku setelah lulus SMA. Dan itu benar-benar menjadi pikiran sejak awal masuk semester 5 atau semester 1 kelas 12. Dan saya pikir, sebagian besar dari kami, atau anak SMA pikirkan ketika memilih jurusan di perguruan tinggi adalah prospek kerja.

Bahwa jurusan ini sangat menjanjikan dan sedang sangat dibutuhkan, bahwa jurusan ini pada beberapa tahun nanti akan begini dan begitu, bahwa jika mengambil jurusan ini dan bisa bekerja disini akan mendapat kan gaji sekian dan sekian. Selain itu juga menggunakan pertimbangan nilai raport yang paling besar dan yang paling bagus. Bila nilai matematikanya bagus, berarti aku akan mengambil jurusan ini dan itu, jika nilai kimia ku bagus, maka aku akan mengambil jurusan ini dan itu.

Dan kini aku sadar, semua pertimbangan yang digunakan untuk menentukan akan kemana aku melanjutkan pendidikan dan jurusan apa yang akan aku pilih waktu itu menggunakan standar yang sangat standar sekali.

Tapi bukan ini yang akan aku bahas kali ini, melainkan bagaimana ketika menjadi mahasiswa baru. Tepat setelah wawancara beasiswa bidikmisi setelah pengumpulan berkas administrasi, maka hari-hari dipenuhi rasa penasaran akankah berkasnya lolos dan diterima beasiswanya. Di lain sisi, bagaimana kalau diterima dan aku akhirnya menjadi mahasiswa baru. Sebelumnya ketika menjelang akhir masa di SMA, aku juga pernah merasakan kekhawatiran yang sama, melihat begitu banyak kasus yang menimpa mahasiswa.

Mulai dari hamil dan melahirkan di dalam kosan tanpa ada yang tahu, perekrutan organisasi-organisasi radikal yang bermuara pada kesesatan dan ajang terorisme, juga beberapa kasus agenda pemurtadan yang terjadi. Maka mencari dan mengumpulkan informasi dari senior waktu itu menjadi hal yang penting bagiku dan kebetulan memang ada guru muda lulusan dari Universitas yang menerimaku waktu itu.

Singkat cerita, berkasku lolos dan pengajuan bidikmisiku diterima. Dan dimulailah dunia ku sebagai mahasiswa baru. Dan kau tahu, sebagai mahasiswa yang baru masuk dan tidak memiliki banyak pengetahuan dan merasa tidak banyak tahu, tidak memiliki banyak pilihan kecuali menerima apa yang dibagi oleh senior yang telah terlebih dahulu menjadi mahasiswa dan mengikuti arahan dosen ataupun civitas kampus yang berwewenang. Hanya saja ada beberapa orang yang punya pendirian kuat, maka mereka menjadi yang paling dominan juga yang paling keras kepala. Namun juga ada yang tanpa ilmu yang cukup merasa paling benar dan menyalahkan yang lainnya.

Aku yang telah banyak bertanya terlebih dahulu soal bagaimana lingkungan universitas juga fakultas, telah memberi batas-batas untuk menerima doktrin yang masuk dari berbagai sumber. Disinilah sebenarnya kita dibentuk pemikirannya. Kita benar-benar mengahadapi suasana yang berbeda dari sebelumnya, dari masa yang terjadwal dan teratur dimana yang bertanggung jawab adalah instansi untuk menertibkan siswanya, kepada yang juga terjawab dan teratur namun tanggungjawabnya diletakkan kepada mahasiswa.

Sehingga jadwal yang sudah dibuat dapat berjalan dengan baik atau tidak tergantung dari perorangan. Dan aturan yang telah dibuat sepenuhnya baik atau tidaknya tergantung dari mahasiswa yang ada didalamnya.

Menjadi mahasiswa baru harus benar-benar belajar dengan cepat, menerima semua informasi lalu menyaringnya, dan mencerna serta memahami informasi yang masuk dari berbagai sudut pandang lalu disesuaikan dengan apa yang menjadi kekuatan bagi kita. Inilah nanti yang membentuk karakter dan wawasan, yang membuat kita jauh lebih dewasa dan bertanggung jawab. Sayangnya, beberapa mahasiswa yang berfikir bahwa nilai adalah segalanya, menjadi manusia menyebalkan dan terlambat berkembang menjadi dewasa.

Pasalnya, apapun yang menghalangi mereka untuk meraih nilai yang besar dan sempurna akan disingkirkan. Belum lagi, mereka selalu mencari sesuatu untuk disalahkan, meski yang paling bijak dari tipe ini adalah yang menjadikan dirinya sendiri paling disalahkan atas apa yang perbuat. Masalahnya ini membatasi mereka untuk berkembang.

Menjadi mahasiswa, kamu juga akan dinilai masyarakat sebagai seseorang yang memiliki kesempatan lebih dari pada yang lainnya. Dan kamu harus siap dilebihkan dan mengambil peran di masyarakat. Maka carilah yang paling bisa membuatmu bertahan dari setiap penderitaan dan pengalaman yang akan didapatkan sebagai mahasiswa. Jadilah mahasiswa yang tidak mengerti kata menyerah, tetapi memahami kata memilih lebih dari siapapun.

Karena menyerah menghentikannya, tetapi memilih memang kadang membuatmu gagal di bagian ini tetapi berusaha dan optimis kembali dibagian itu. Dan jadilah orang yang bertanggung jawab atas apa yang kau terima, juga jadilah yang peduli kepada kebenaran. Karena kebenaran tak pernah mengajarimu untuk mencontek demi mendapatkan nilai yang baik, untuk mengabaikan semua teman-temanmu juga keluarga demi ambisimu. Tapi ia memilih mana yang lebih penting dan lebih baik untuk dia dan masa depannya sesuai dengan pemahamannya terhadap ilmu.

Memulainya Dengan Niat Baik (Cerita dan Alasan Saya mengikuti lembaga dakwah kampus)



Dulu, saya memutuskan pacar saya saat hari ulang tahunnya. Dan saya menjadi orang paling kejam sedunia waktu itu, tapi tentu bukan tanpa alasan. Satu-satunya alasan saya memutuskannya bukan karena bosan ataupun hal-hal receh lainnya, tetapi karena panggilan hati dan karena saya tahu kalau pacaran itu berdosa. Saya sadar dari dalam diri saya ini selalu ada bisikan untuk senantiasa menjadi baik dan menjadi orang yang taat beragama. Dan inilah potensi yang saya miliki, menjadi baik.

Ketika sekolah dasar, tepatnya waktu di sekolah MI Muhammadiyah Tanjung Tirto, ada  program dari sekolahan yang mewajibkan kita untuk melakukan sholat dhuha ketika jam istirahat. Di absen, dan yang tidak melaksanakan sholat dhuha akan di kenai sanksi untuk membersihkan sholat dhuha. Dan kebiasaan itu berlanjut di rumah ketika tidur dengan sendiri. Alasannya ketika di tanya oleh ibu atau yang lainnya kenapa ingin sholat dhuha? pasti jawabanku sederhana, karena pahalanya besar, dan bisa nanti biar dibangunkan istana oleh Allah di surga. Lucunya, malah sholat 5 waktuku yang sering aku tinggalkan, yang paling sering adalah ashar dan isya. Ashar adalah waktu main yang paling asyik sampai lupa pulang jam berapa, lucunya saya juga mengaji di sebuah TPA jam 4 sore. Kalau dari rumah di suruh sholat, jawabnya nanti sholatnya di TPA saja (karena TPA nya memang dekat dengan masjid) dan ketika di tanya oleh guru ngaji sudah sholat atau belum, maka jawabannya selalu sudah di rumah tadi. Dan ketika itulah saya mulai sering berbohong. Tapi itu tidak menutup potensi kebaikan yang ada pada diri saya.

Memasuki pendidikan tahap selanjutnya, saya melanjutkan pendidikan di SMP umum, dan disinilah neraka saya dimulai. Perubahan mental terburuk saya terjadi. Saya semakin sering berbohong dan sering meninggalkan sholat. Yang dulunya cuma ashar dan isya yang sering saya tinggalkan, sekarang bertambah menjadi dhuhur juga, karena di sekolah tempat saya tidak ada masjid, ada mushalla kecil, tapi guru-guru yang sholat dhuhur disitu hanya 2 sampai 3 orang saja. Karen sekolah pulang jam 13.00 WIB, jadi banyak yang berfikir untuk sholat dirumah saja, padahal sholat saja tidak. Hati saya benar-benar resah pada waktu itu, seringkali merasa depresi pada hal-hal yang tak seharusnya. Sampai pada kelas 3 SMP,saya akhirnya menyerah untuk merasa depresi dan mencoba memperbaiki diri. Disinilah saya mulai memilih dan menyusun apa saja yang perlu saya lakukan selanjutnya.

Dan ketika saya ingin berubah menjadi baik, justru saat itulah pertama kalinya aku mengenal yang namanya pacaran. Dan aku pertama kali pacaran dengan bumbu saling mengingatkan dalam kebaikan dengan gaya anak SMP yang super alay tentunya. Siapa yang tahu, dari situlah yang menentukan bagaimana saya selanjutnya menjalani kehidupan. Dan saya diterima di sekolah menengah atas umum yang waktu itu paling bagus di Purbolinggo. Pertama kali saya masuk ke sekolah tersebut saya menargetkan akan bisa memenangkan olimpiade nantinya. Karena saya sudah dua kali gagal di MI dan SMP. Dan sepertinya ada seorang guru yang mengetahui potensi kebaikan yang ada pada dalam diri saya. Beliau melihat keresahan yang mungkin sering saya lakukan. 

Dan waktu itu saya mengikuti ektrakulikuler rohis, dan mulai saat itu saya tahu bahwa pacaran itu sebenarnya tidak boleh dan berdosa. Tapi kebiasaan yang ada disekitarku, baik teman sekelas juga teman dekat, sebagian besar pacaran. Dan saya masuk kesebagian kecil yang tidak pacaran. Bukan karena tak mau, tapi karena mungkin saya adalah salah satu dari banyak orang yang ketampanannya di bawah standar yang ada pada waktu itu. Orang-orang yang tertarik dengan saya adalah para guru eksakta, karena pada waktu itu saya di golongkan termasuk orang-orang yang berbakat dibidang sains kecuali biologi. Dan sampailah waktu itu saya berhasil menjuarai olimpiade kimia tingkat kabupaten lampung timur.

Tahukah kamu, saya bukan lagi seorang yang suka berbohong kala itu, sholat saya juga sudah full 5 waktu, keculai kalau kelupaan. Belum berjamaah sepenuhnya, tapi mulai pertama kali membiasakan sholat shubuh berjamaah kalau ada yang adzan di mushalla dekat dengan mushalla ku. Pernah, bahkan sering, berangkat ke mushalla lihat apakah ada yang sholat berjamaah atau tidak, kalau tidak ada yang adzan, saya balik lagi kerumah dan sholat sendirian dirumah kalau bapak belum bangun. Tapi kalau sudah, maka saya mengajak bapak berjamaah. Namun lucunya, sekali lagi saya terjebak dan dalam hubungan yang dinamakan berpacaran. Dan itulah ketika saya kembali merasakan keresahan. Rasanya saya inging mengakhirinya segera, tapi beberapa analisis saya, mengatakan untuk tidak bisa terburu-buru. Sampai jatuh pada tanggal ulang tahunnya, dan itu sudah bulan ke 6 saya mengakui hubungan ini sebagai pacaran dan saya tepat sampai semester 6, yang berarti saya mulai sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan pendidikan saya.

Dan disitulah bisikan kebaikan yang ada pada diri saya kembali keluar. Saya cerita kepada salah satu guru saya, yang menurut saya beliau benar-benar menginspirasi saya. Saya mengatakan, saya ingin menjadi baik. Dan saya butuh teman yang senantiasa mengingatkan saya ketika saya sedang dalam keadaan yang salah dan menjauh dari kebaikan. Saya ingin menjadi orang yang taat kepada Allah. Maka saya mencari banyak informasi, dan memutuskan untuk mengikuti organisasi di kampus yang membimbing saya menjadi seorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan itulah, alasan pertama saya hingga bisa masuk ke lembaga dakwah kampus. Semua UKM yang saya pilih untuk saya ikuti adalah UKM kerohanian islam. Karena sekali lagi, ada bisikan yang mengajak saya untuk kebaikan, terutama untuk kembali kepada Allah SWT.

Dengar Saja atau Sudah Paham?



Sejenak menghela nafas dalam-dalam. Sebuah pemandangan yang cukup menyesak hati tapi juga menjadi peluang amal yang baik. Dua kemasan yang unik, dimana selalu ada sela dakwah dalam setiap kekeliruan pemahaman.

Assalamualaikum warrahmatullah wabarrakatuuh.. Bagaimana kabarnya sahabat-sahabat pena Adwan semua, pasti sedang baik sekali kan? Semoga yang sedang di rundung musibah, Allah limpahkan rahmat dan ampunan serta segera menghilangkan cobaan tersebut dari sisinya. Puji syukur Ke dairat-Nya semoga kita semua senantiasa berada dijalan yang lurus yang benar lagi di ridhai Allah. Dan salawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada percontohan manusia terbaik, yang telah Allah deklarasikan sebagai suri tauladan bagi umat akhir jaman, Rasullulah Muhammad SAW. Semoga kita semua termasuk insan yang istiqomah dalam menjalankan sunnah-sunnah nya serta dapat berjumpa dengan beliau kelak di telaga Al-Kautsar.

Ada beberapa yang menjadi perhatian khusus oleh penulis baru-baru ini. Hal ini penulis pikirkan saat penulis sedang pulang kampung. Persoalannya sebenarnya mengenai kepahaman dari setiap individu masyarakat yang ada di dalamnya. Dan tema yang saya ambil adalah tentang perkara panggilan Allah, terutama adzan untuk sholat berjamaah.

Kita, kadang punya kenalan baik, bisa sahabat, saudara maupun orang lain yang begitu berjasa bagi kita. Dia selalu membantu kita dalam kesusahan, baik dalam bentuk materi maupun lainnya. Kadang juga dalam bentuk support dan tenaga. 

Pada suatu hari kita sedang berada di Sawah, tiba-tiba mendapat kabar bahwasannya sahabat kita sedang bermain kerumah kita dan beliau menunggu dirumah. Tentu setelah mendengar kabar tersebut kita akan bergegas-gegas pulang, kadang kita bereskan terlebih dahulu perkakas di sawah, atau kadang ditinggal begitu saja karena sudah kangennya pengen bertemu sahabat atau karena merasa tidak enak jika dibiarkan begitu lama menunggu dirumah. Atau ketika ada salah satu orang penting seperti pejabat mengabarkan bahwa hari sekian akan berkunjung kerumah, maka kita akan siapkan sajian terbaik, rumah dibersihkan, berpakaian yang rapi bahkan yang dipakai yang terbaik, memakai wewangian dan lainnya. Juga jauh-jauh hari kita siapkan, apakah ada yang kurang dan sebagainya.

Tapi bagaimana dengan adzan? Mungkin masih ada yang bergumam "masih adzan belum iqomah" atau "waktunya masih panjang". Jika masih seperti ini maka pengetahuan kita tentang adzan masih nol. Atau kita tahu tetapi tidak paham.

Sejatinya, adzan adalah panggilan Allah SWT. terhadap hambanya agar menghadapnya dimanapun kita berada. mari kita bersama-sama merenung, jika kita sudah sepakat dengan pendapat sebelumnya, yaitu ketika ada orang penting yang berkunjung kerumah kita atau memanggil kita untuk mendatangi rumahnya, misalnya pejabat yang memanggil, maka kita akan bersegera, kalau bisa nggak sampai telat, juga memakai pakaian yang terbaik.

Jadi sepenting apa Allah bagimu..? Setinggi apa kedudukan Allah yang Maha Raja diraja alam semesta. Jika kau dipanggil oleh pejabat saja bergegas, sedang ketika kau dipanggil oleh tuhannya pejabat engkau berleha-leha.

Itulah sebagian gambaran kecil yang perlu kita renungkan bersama, sudahkah kita bersegera dalam menyambut seruan Allah? Anda saja pagian Allah yang datang hari ini bukan lagi adzan melainkan maut, sudah pastikah kita masuk surga, atau yakinkah kita tidak kekal di neraka? Tak ada jaminan untuk diri kita, yang saat di panggil untuk menjalankan kewajiban kita tidak bersegera malah sampai ogah-ogahan.

Wassalamualaikum wr. wb.

Menulislah Jika Kamu Masih Berfikir



Sejak remaja ada keinginan untuk menulis, yang paling seru adalah dapat menulis buku best seller. Dimulai dari membuat buku diari dengan gaya bahasa yang sangat acak-acakan. dari yang nggak berjudul sampai akhirnya punya judul. Juga suka nulis di media sosial. Meski tak panjang narasinya, tapi bisa dibilang lumayan untuk sekedar memenuhi beranda facebook. Belum lagi sekarang juga ditambah dengan banyaknya media sosial yang digunakan. Menulis mulai dari puisi puisi kosong sampai tulisan sindiran. Tetapi yang selalu menjadi topik dalam tulisan adalah masalah hati.

Bahkan untuk cerita yang aku tulis di wattpad dengan genre cinta juga soal perasaan. Baru sampai 5 judul udah mandek. Pengalaman sih, nulis saat ini baru digunakan untuk menumpahkan perasaan atau curhatan yang tak sampai. Karena belum punya teman curhat yang bener-bener bisa lepas kalau cerita, maka ya hobinya nulis, meski sebenarnya curhat. Tetapi bukankah asik kalau nantinya curhatan kita dapat membantu orang dalam menyelesaikan masalahnya. Yang bermasalah adalah kalau tulisan kita malah menjadi sumber masalah. karena dulu pernah sukanya nyindir orang lewat tulisan. Meski kalau ketemu langsung tak pernah menampakkan wajah kesal, suka, sedih, bahagia, tapi dengan tulisan semua bisa dibuat dramatis, dan anehnya orang berempati.

Sempat muncul anggapan, bahwa dengan tulisan kita dapat merekayasa kenyataan. Kisah bahagia dibuat sedih, kisah sedih dibuat bahagia. Semuanya bisa dimanipulasi. Juga dalam tulisan kita dapat menyampaikan gagasan, ntah nanti diterima oleh para pembaca atau tidak, tetapi setidaknya dengan menulis kita dapat menyampaikan pendapat kita dan dapat menuangkan gagasan pikiran pada sebuah kertas atau terpaan dibalik layar digital.

Bagi orang yang berfikir, dua bentuk tuangan dari pikiran adalah tindakan dan tulisan. Saya yakin bahwa orang yang masih waras tidak pernah berhenti berfikir, karena darah juga tak pernah berhenti mengalir ke otak. JIka saja otak berhenti berfikir dan darah berhenti mengalir ke otak, maka manusia tersebut mati atau sama dengan mati. Berfikir juga ada yang waras dan juga yang edan. Karena ada saja orang yang berfikir bagaimana cara untuk menentang tuhan.

Yang jelas, bagi orang yang berfikir harusnya ia bisa menulis dan menuangkan gagasannya. Jika ia tidak bisa menjadi pelaksana, setidaknya gagasannya akan ada yang memakainya nanti dan akan dilaksanakan oleh generasi yang siap dan pantas melaksanakannya. Dan tentu dengan menulis dan menciptakan karya kita bisa merekayasa peradaban. Pilihannya adalah membentuk peradapan yang bagaimana? apakah peradaban yang kembali kepada Allah dengan wajah berbinar atau malah dengan wajah yang diseret ditanah karena malu akan ketersesatannya.

#BerangkatDariIman
#Bagian1

Yang Ku Khawatirkan adalah Aku Berani Mencintaimu


Yang Ku Khawatirkan adalah aku berani mencintaimu tetapi tak bisa mengikhlaskanmu.

Setiap detik yang Allah berikan kepada kita, selaku mahluk ciptaannya adalah sebuah anugrah yang wajib kita syukuri. Karena selama kita masih hidup, maka kesempatan untuk bertaubat selalu terbuka seluas-luasnya. Dalam Al-Quran - pun di kisahkan, bahwa penghuni alam barzakh banyak yang menyesal, ketika ia sudah tak punya lagi waktu sepersekian detik saja di dunia. Bahkan mereka meminta dan memohon kepada Allah agar memberikan mereka waktu sebentar saja untuk kembali ke dunia hanya untuk 1 hal, yaitu beramal.

Wahai sahabat-sahabatku, jika kalian pernah berduka akan sesuatu, maka aku juga. Tahukah kawanku, duka itu hadir saat ada kecintaan pada apa yang kita dukakan. Misalnya, kepergian kedua orang tua kita. Siapa yang tak mencintai kedua orang tuanya, yang mereka berdua telah banyak berkorban, baik harta dan jiwa. Terutama kedua ibu kita. Meski kenyataannya, ada seorang ibu yang teramat benci dengan kelahiran anaknya atau sebaliknya anak benci karena lahir dari ibu. Tapi tentu itu di luar dari keumuman. Maka wajar disebut berduka saat sang ibu di panggil oleh Allah untuk kembali menghadap Allah dengan segala tanggungjawabnya. Siap yang tak bersedih saat kehilangan apa yang seorang cintai.

Di lain cerita, maka kita sering mendengar kisah cinta sepasang kekasih yang saling mencintai. Salah satu kisah novel yang cukup menggambarkan arti duka kehilangan yang ia cintai, jika saya boleh mengutip adalah kisah cinta antara zainudin dan hayati dalam tenggelamnya kapal van der wijk. Seorang pemuda yatim piatu, yang krisi status dimasyarakat yang kala itu kental dengan adat dan istiadat orang sumatra. Bertemu dengan seorang Hayati, perempuan cantik nang menawan dan berstatus tinggi. Namun, takdir memaksanya lain, bahwa hayati bukanlah jodoh seorang zainuddin, perjodohan dan yang lainnya memaksa mereka berpisah. Betapa nestapa nya sang Zainuddin yang waktu itu merasa memiliki cahayanya, yaitu hayati namun cahayanya di rebut oleh orang lain. Maka ia merasa gelap dan tak lagi tahu kemana ia harus berjalan. Maka satu yang menyelamatkannya, adalah keyakinannya terhadap agamanya dan bahwa ia masih diberi waktu di dunia. Dan harga dirinya sebagai mahluk, mengantarkannya untuk tetap hidup karena dengan atau tanpa hayati, kehidupan akan tetap berjalan. Meski kisahnya masih panjang, tapi kita tahu, bahwa duka Zainudin ternyata tak pernah habis, hatinya telah tertawan cinta, dan sampai akhir hayatnya, ia mengaku cahayanya ada satu, Hayati.

Kau tahu Sahabat, kita semua tentu punya jiwa yang di dalamnya ada suatu ruang yang terletak iman juga cinta. Kita tinggalkan dulu pembahasan perkara cinta secara mendalam, kali ini kita membiarkan rasa itu berbicara menurut pandangan kebanyakan orang pada umumnya. Selama ini, tentu aku sendiri pernah menamakan suatu rasa. Mungkin saja itu kunamakan cinta, atau sekedar perasaan suka.

Sederhana saja, saat rasa itu muncul dan membawamu melakukan sesuatu yang awalnya mustahil kamu lakukan, atau paling tidak sangat sulit untuk kamu lakukan. Maka berhati-hatilah, karena cinta hadir di dalam dirimu. Cinta membuat dapat melakukan banyak hal, membuat pantang menyerah hanya karena adanya segurat harapan yang berkaitan dengan yang sedang kau cinta. Celakanya, cinta itu berlabuh pada suatu yang fana. Dan saat yang fana itu menunjukan sifat aslinya dan kita kehilangan, maka duka datang menyapa.

Dan aku pernah mendapat pengalaman itu, katakanlah aku pernah jatuh cinta kepada seorang wanita, yang ternyata Allah berkata lain bahwa wanita itu bukanlah jodohku. Dan saat hal itu terjadi, aku benar-benar tak mau duka itu datang karena hilangnya cinta, dalam garis tipisnya adalah harapan. Tapi tentu, seorang laki-laki memiliki harga diri tinggi, dan aku yakin bahwa kehidupan akan terus berjalan tanpa menunggumu berhenti bersedih, tanpa menunggumu berhenti berduka. Dan aku tahu, bahwa waktu juga tidak akan pernah kompromi meski aku meminta di tunda sesaat saja.

Dan lihatlah, kehidupanku terus berjalan sekarang, aku tidak berduka sedikitpun, dan juga tidak kehilangan sedikitpun. Karena aku percaya bahwa apa yang Allah telah takdirkan untukku, maka itu akan menjadi milikku, dan apa yang Allah takdirkan bukan untuukku maka tak akan sedikitpun akan menjadi milikku. Tentu semua selesai sampai disini, tapi satu hal yang aku khawatirkan, yaitu aku berani mencintaimu tapi tak berani mengikhlaskan dirimu. Karena bila demikian yang terjadi, maka aku telah mewakafkan hatiku dalam jurang duka dan nestapa yang kapan saja akan menyerang dan menolak kebahagiaan datang bercengkrama.

Sahabatku, kenalilah dirimu. Jika kau kenali dirimu maka akan kau kenali cintamu. Jika sudah keduanya, ajaklah hatimu untuk sering berkunjung dalam cahaya Allah, agar cinta hanya akan jatuh pada keimanan dan keagungan Allah, bukan pada mahluk dan kefanaan belaka.