Memulainya Dengan Niat Baik (Cerita dan Alasan Saya mengikuti lembaga dakwah kampus)



Dulu, saya memutuskan pacar saya saat hari ulang tahunnya. Dan saya menjadi orang paling kejam sedunia waktu itu, tapi tentu bukan tanpa alasan. Satu-satunya alasan saya memutuskannya bukan karena bosan ataupun hal-hal receh lainnya, tetapi karena panggilan hati dan karena saya tahu kalau pacaran itu berdosa. Saya sadar dari dalam diri saya ini selalu ada bisikan untuk senantiasa menjadi baik dan menjadi orang yang taat beragama. Dan inilah potensi yang saya miliki, menjadi baik.

Ketika sekolah dasar, tepatnya waktu di sekolah MI Muhammadiyah Tanjung Tirto, ada  program dari sekolahan yang mewajibkan kita untuk melakukan sholat dhuha ketika jam istirahat. Di absen, dan yang tidak melaksanakan sholat dhuha akan di kenai sanksi untuk membersihkan sholat dhuha. Dan kebiasaan itu berlanjut di rumah ketika tidur dengan sendiri. Alasannya ketika di tanya oleh ibu atau yang lainnya kenapa ingin sholat dhuha? pasti jawabanku sederhana, karena pahalanya besar, dan bisa nanti biar dibangunkan istana oleh Allah di surga. Lucunya, malah sholat 5 waktuku yang sering aku tinggalkan, yang paling sering adalah ashar dan isya. Ashar adalah waktu main yang paling asyik sampai lupa pulang jam berapa, lucunya saya juga mengaji di sebuah TPA jam 4 sore. Kalau dari rumah di suruh sholat, jawabnya nanti sholatnya di TPA saja (karena TPA nya memang dekat dengan masjid) dan ketika di tanya oleh guru ngaji sudah sholat atau belum, maka jawabannya selalu sudah di rumah tadi. Dan ketika itulah saya mulai sering berbohong. Tapi itu tidak menutup potensi kebaikan yang ada pada diri saya.

Memasuki pendidikan tahap selanjutnya, saya melanjutkan pendidikan di SMP umum, dan disinilah neraka saya dimulai. Perubahan mental terburuk saya terjadi. Saya semakin sering berbohong dan sering meninggalkan sholat. Yang dulunya cuma ashar dan isya yang sering saya tinggalkan, sekarang bertambah menjadi dhuhur juga, karena di sekolah tempat saya tidak ada masjid, ada mushalla kecil, tapi guru-guru yang sholat dhuhur disitu hanya 2 sampai 3 orang saja. Karen sekolah pulang jam 13.00 WIB, jadi banyak yang berfikir untuk sholat dirumah saja, padahal sholat saja tidak. Hati saya benar-benar resah pada waktu itu, seringkali merasa depresi pada hal-hal yang tak seharusnya. Sampai pada kelas 3 SMP,saya akhirnya menyerah untuk merasa depresi dan mencoba memperbaiki diri. Disinilah saya mulai memilih dan menyusun apa saja yang perlu saya lakukan selanjutnya.

Dan ketika saya ingin berubah menjadi baik, justru saat itulah pertama kalinya aku mengenal yang namanya pacaran. Dan aku pertama kali pacaran dengan bumbu saling mengingatkan dalam kebaikan dengan gaya anak SMP yang super alay tentunya. Siapa yang tahu, dari situlah yang menentukan bagaimana saya selanjutnya menjalani kehidupan. Dan saya diterima di sekolah menengah atas umum yang waktu itu paling bagus di Purbolinggo. Pertama kali saya masuk ke sekolah tersebut saya menargetkan akan bisa memenangkan olimpiade nantinya. Karena saya sudah dua kali gagal di MI dan SMP. Dan sepertinya ada seorang guru yang mengetahui potensi kebaikan yang ada pada dalam diri saya. Beliau melihat keresahan yang mungkin sering saya lakukan. 

Dan waktu itu saya mengikuti ektrakulikuler rohis, dan mulai saat itu saya tahu bahwa pacaran itu sebenarnya tidak boleh dan berdosa. Tapi kebiasaan yang ada disekitarku, baik teman sekelas juga teman dekat, sebagian besar pacaran. Dan saya masuk kesebagian kecil yang tidak pacaran. Bukan karena tak mau, tapi karena mungkin saya adalah salah satu dari banyak orang yang ketampanannya di bawah standar yang ada pada waktu itu. Orang-orang yang tertarik dengan saya adalah para guru eksakta, karena pada waktu itu saya di golongkan termasuk orang-orang yang berbakat dibidang sains kecuali biologi. Dan sampailah waktu itu saya berhasil menjuarai olimpiade kimia tingkat kabupaten lampung timur.

Tahukah kamu, saya bukan lagi seorang yang suka berbohong kala itu, sholat saya juga sudah full 5 waktu, keculai kalau kelupaan. Belum berjamaah sepenuhnya, tapi mulai pertama kali membiasakan sholat shubuh berjamaah kalau ada yang adzan di mushalla dekat dengan mushalla ku. Pernah, bahkan sering, berangkat ke mushalla lihat apakah ada yang sholat berjamaah atau tidak, kalau tidak ada yang adzan, saya balik lagi kerumah dan sholat sendirian dirumah kalau bapak belum bangun. Tapi kalau sudah, maka saya mengajak bapak berjamaah. Namun lucunya, sekali lagi saya terjebak dan dalam hubungan yang dinamakan berpacaran. Dan itulah ketika saya kembali merasakan keresahan. Rasanya saya inging mengakhirinya segera, tapi beberapa analisis saya, mengatakan untuk tidak bisa terburu-buru. Sampai jatuh pada tanggal ulang tahunnya, dan itu sudah bulan ke 6 saya mengakui hubungan ini sebagai pacaran dan saya tepat sampai semester 6, yang berarti saya mulai sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan pendidikan saya.

Dan disitulah bisikan kebaikan yang ada pada diri saya kembali keluar. Saya cerita kepada salah satu guru saya, yang menurut saya beliau benar-benar menginspirasi saya. Saya mengatakan, saya ingin menjadi baik. Dan saya butuh teman yang senantiasa mengingatkan saya ketika saya sedang dalam keadaan yang salah dan menjauh dari kebaikan. Saya ingin menjadi orang yang taat kepada Allah. Maka saya mencari banyak informasi, dan memutuskan untuk mengikuti organisasi di kampus yang membimbing saya menjadi seorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan itulah, alasan pertama saya hingga bisa masuk ke lembaga dakwah kampus. Semua UKM yang saya pilih untuk saya ikuti adalah UKM kerohanian islam. Karena sekali lagi, ada bisikan yang mengajak saya untuk kebaikan, terutama untuk kembali kepada Allah SWT.

Dengar Saja atau Sudah Paham?



Sejenak menghela nafas dalam-dalam. Sebuah pemandangan yang cukup menyesak hati tapi juga menjadi peluang amal yang baik. Dua kemasan yang unik, dimana selalu ada sela dakwah dalam setiap kekeliruan pemahaman.

Assalamualaikum warrahmatullah wabarrakatuuh.. Bagaimana kabarnya sahabat-sahabat pena Adwan semua, pasti sedang baik sekali kan? Semoga yang sedang di rundung musibah, Allah limpahkan rahmat dan ampunan serta segera menghilangkan cobaan tersebut dari sisinya. Puji syukur Ke dairat-Nya semoga kita semua senantiasa berada dijalan yang lurus yang benar lagi di ridhai Allah. Dan salawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada percontohan manusia terbaik, yang telah Allah deklarasikan sebagai suri tauladan bagi umat akhir jaman, Rasullulah Muhammad SAW. Semoga kita semua termasuk insan yang istiqomah dalam menjalankan sunnah-sunnah nya serta dapat berjumpa dengan beliau kelak di telaga Al-Kautsar.

Ada beberapa yang menjadi perhatian khusus oleh penulis baru-baru ini. Hal ini penulis pikirkan saat penulis sedang pulang kampung. Persoalannya sebenarnya mengenai kepahaman dari setiap individu masyarakat yang ada di dalamnya. Dan tema yang saya ambil adalah tentang perkara panggilan Allah, terutama adzan untuk sholat berjamaah.

Kita, kadang punya kenalan baik, bisa sahabat, saudara maupun orang lain yang begitu berjasa bagi kita. Dia selalu membantu kita dalam kesusahan, baik dalam bentuk materi maupun lainnya. Kadang juga dalam bentuk support dan tenaga. 

Pada suatu hari kita sedang berada di Sawah, tiba-tiba mendapat kabar bahwasannya sahabat kita sedang bermain kerumah kita dan beliau menunggu dirumah. Tentu setelah mendengar kabar tersebut kita akan bergegas-gegas pulang, kadang kita bereskan terlebih dahulu perkakas di sawah, atau kadang ditinggal begitu saja karena sudah kangennya pengen bertemu sahabat atau karena merasa tidak enak jika dibiarkan begitu lama menunggu dirumah. Atau ketika ada salah satu orang penting seperti pejabat mengabarkan bahwa hari sekian akan berkunjung kerumah, maka kita akan siapkan sajian terbaik, rumah dibersihkan, berpakaian yang rapi bahkan yang dipakai yang terbaik, memakai wewangian dan lainnya. Juga jauh-jauh hari kita siapkan, apakah ada yang kurang dan sebagainya.

Tapi bagaimana dengan adzan? Mungkin masih ada yang bergumam "masih adzan belum iqomah" atau "waktunya masih panjang". Jika masih seperti ini maka pengetahuan kita tentang adzan masih nol. Atau kita tahu tetapi tidak paham.

Sejatinya, adzan adalah panggilan Allah SWT. terhadap hambanya agar menghadapnya dimanapun kita berada. mari kita bersama-sama merenung, jika kita sudah sepakat dengan pendapat sebelumnya, yaitu ketika ada orang penting yang berkunjung kerumah kita atau memanggil kita untuk mendatangi rumahnya, misalnya pejabat yang memanggil, maka kita akan bersegera, kalau bisa nggak sampai telat, juga memakai pakaian yang terbaik.

Jadi sepenting apa Allah bagimu..? Setinggi apa kedudukan Allah yang Maha Raja diraja alam semesta. Jika kau dipanggil oleh pejabat saja bergegas, sedang ketika kau dipanggil oleh tuhannya pejabat engkau berleha-leha.

Itulah sebagian gambaran kecil yang perlu kita renungkan bersama, sudahkah kita bersegera dalam menyambut seruan Allah? Anda saja pagian Allah yang datang hari ini bukan lagi adzan melainkan maut, sudah pastikah kita masuk surga, atau yakinkah kita tidak kekal di neraka? Tak ada jaminan untuk diri kita, yang saat di panggil untuk menjalankan kewajiban kita tidak bersegera malah sampai ogah-ogahan.

Wassalamualaikum wr. wb.

Menulislah Jika Kamu Masih Berfikir



Sejak remaja ada keinginan untuk menulis, yang paling seru adalah dapat menulis buku best seller. Dimulai dari membuat buku diari dengan gaya bahasa yang sangat acak-acakan. dari yang nggak berjudul sampai akhirnya punya judul. Juga suka nulis di media sosial. Meski tak panjang narasinya, tapi bisa dibilang lumayan untuk sekedar memenuhi beranda facebook. Belum lagi sekarang juga ditambah dengan banyaknya media sosial yang digunakan. Menulis mulai dari puisi puisi kosong sampai tulisan sindiran. Tetapi yang selalu menjadi topik dalam tulisan adalah masalah hati.

Bahkan untuk cerita yang aku tulis di wattpad dengan genre cinta juga soal perasaan. Baru sampai 5 judul udah mandek. Pengalaman sih, nulis saat ini baru digunakan untuk menumpahkan perasaan atau curhatan yang tak sampai. Karena belum punya teman curhat yang bener-bener bisa lepas kalau cerita, maka ya hobinya nulis, meski sebenarnya curhat. Tetapi bukankah asik kalau nantinya curhatan kita dapat membantu orang dalam menyelesaikan masalahnya. Yang bermasalah adalah kalau tulisan kita malah menjadi sumber masalah. karena dulu pernah sukanya nyindir orang lewat tulisan. Meski kalau ketemu langsung tak pernah menampakkan wajah kesal, suka, sedih, bahagia, tapi dengan tulisan semua bisa dibuat dramatis, dan anehnya orang berempati.

Sempat muncul anggapan, bahwa dengan tulisan kita dapat merekayasa kenyataan. Kisah bahagia dibuat sedih, kisah sedih dibuat bahagia. Semuanya bisa dimanipulasi. Juga dalam tulisan kita dapat menyampaikan gagasan, ntah nanti diterima oleh para pembaca atau tidak, tetapi setidaknya dengan menulis kita dapat menyampaikan pendapat kita dan dapat menuangkan gagasan pikiran pada sebuah kertas atau terpaan dibalik layar digital.

Bagi orang yang berfikir, dua bentuk tuangan dari pikiran adalah tindakan dan tulisan. Saya yakin bahwa orang yang masih waras tidak pernah berhenti berfikir, karena darah juga tak pernah berhenti mengalir ke otak. JIka saja otak berhenti berfikir dan darah berhenti mengalir ke otak, maka manusia tersebut mati atau sama dengan mati. Berfikir juga ada yang waras dan juga yang edan. Karena ada saja orang yang berfikir bagaimana cara untuk menentang tuhan.

Yang jelas, bagi orang yang berfikir harusnya ia bisa menulis dan menuangkan gagasannya. Jika ia tidak bisa menjadi pelaksana, setidaknya gagasannya akan ada yang memakainya nanti dan akan dilaksanakan oleh generasi yang siap dan pantas melaksanakannya. Dan tentu dengan menulis dan menciptakan karya kita bisa merekayasa peradaban. Pilihannya adalah membentuk peradapan yang bagaimana? apakah peradaban yang kembali kepada Allah dengan wajah berbinar atau malah dengan wajah yang diseret ditanah karena malu akan ketersesatannya.

#BerangkatDariIman
#Bagian1

Yang Ku Khawatirkan adalah Aku Berani Mencintaimu


Yang Ku Khawatirkan adalah aku berani mencintaimu tetapi tak bisa mengikhlaskanmu.

Setiap detik yang Allah berikan kepada kita, selaku mahluk ciptaannya adalah sebuah anugrah yang wajib kita syukuri. Karena selama kita masih hidup, maka kesempatan untuk bertaubat selalu terbuka seluas-luasnya. Dalam Al-Quran - pun di kisahkan, bahwa penghuni alam barzakh banyak yang menyesal, ketika ia sudah tak punya lagi waktu sepersekian detik saja di dunia. Bahkan mereka meminta dan memohon kepada Allah agar memberikan mereka waktu sebentar saja untuk kembali ke dunia hanya untuk 1 hal, yaitu beramal.

Wahai sahabat-sahabatku, jika kalian pernah berduka akan sesuatu, maka aku juga. Tahukah kawanku, duka itu hadir saat ada kecintaan pada apa yang kita dukakan. Misalnya, kepergian kedua orang tua kita. Siapa yang tak mencintai kedua orang tuanya, yang mereka berdua telah banyak berkorban, baik harta dan jiwa. Terutama kedua ibu kita. Meski kenyataannya, ada seorang ibu yang teramat benci dengan kelahiran anaknya atau sebaliknya anak benci karena lahir dari ibu. Tapi tentu itu di luar dari keumuman. Maka wajar disebut berduka saat sang ibu di panggil oleh Allah untuk kembali menghadap Allah dengan segala tanggungjawabnya. Siap yang tak bersedih saat kehilangan apa yang seorang cintai.

Di lain cerita, maka kita sering mendengar kisah cinta sepasang kekasih yang saling mencintai. Salah satu kisah novel yang cukup menggambarkan arti duka kehilangan yang ia cintai, jika saya boleh mengutip adalah kisah cinta antara zainudin dan hayati dalam tenggelamnya kapal van der wijk. Seorang pemuda yatim piatu, yang krisi status dimasyarakat yang kala itu kental dengan adat dan istiadat orang sumatra. Bertemu dengan seorang Hayati, perempuan cantik nang menawan dan berstatus tinggi. Namun, takdir memaksanya lain, bahwa hayati bukanlah jodoh seorang zainuddin, perjodohan dan yang lainnya memaksa mereka berpisah. Betapa nestapa nya sang Zainuddin yang waktu itu merasa memiliki cahayanya, yaitu hayati namun cahayanya di rebut oleh orang lain. Maka ia merasa gelap dan tak lagi tahu kemana ia harus berjalan. Maka satu yang menyelamatkannya, adalah keyakinannya terhadap agamanya dan bahwa ia masih diberi waktu di dunia. Dan harga dirinya sebagai mahluk, mengantarkannya untuk tetap hidup karena dengan atau tanpa hayati, kehidupan akan tetap berjalan. Meski kisahnya masih panjang, tapi kita tahu, bahwa duka Zainudin ternyata tak pernah habis, hatinya telah tertawan cinta, dan sampai akhir hayatnya, ia mengaku cahayanya ada satu, Hayati.

Kau tahu Sahabat, kita semua tentu punya jiwa yang di dalamnya ada suatu ruang yang terletak iman juga cinta. Kita tinggalkan dulu pembahasan perkara cinta secara mendalam, kali ini kita membiarkan rasa itu berbicara menurut pandangan kebanyakan orang pada umumnya. Selama ini, tentu aku sendiri pernah menamakan suatu rasa. Mungkin saja itu kunamakan cinta, atau sekedar perasaan suka.

Sederhana saja, saat rasa itu muncul dan membawamu melakukan sesuatu yang awalnya mustahil kamu lakukan, atau paling tidak sangat sulit untuk kamu lakukan. Maka berhati-hatilah, karena cinta hadir di dalam dirimu. Cinta membuat dapat melakukan banyak hal, membuat pantang menyerah hanya karena adanya segurat harapan yang berkaitan dengan yang sedang kau cinta. Celakanya, cinta itu berlabuh pada suatu yang fana. Dan saat yang fana itu menunjukan sifat aslinya dan kita kehilangan, maka duka datang menyapa.

Dan aku pernah mendapat pengalaman itu, katakanlah aku pernah jatuh cinta kepada seorang wanita, yang ternyata Allah berkata lain bahwa wanita itu bukanlah jodohku. Dan saat hal itu terjadi, aku benar-benar tak mau duka itu datang karena hilangnya cinta, dalam garis tipisnya adalah harapan. Tapi tentu, seorang laki-laki memiliki harga diri tinggi, dan aku yakin bahwa kehidupan akan terus berjalan tanpa menunggumu berhenti bersedih, tanpa menunggumu berhenti berduka. Dan aku tahu, bahwa waktu juga tidak akan pernah kompromi meski aku meminta di tunda sesaat saja.

Dan lihatlah, kehidupanku terus berjalan sekarang, aku tidak berduka sedikitpun, dan juga tidak kehilangan sedikitpun. Karena aku percaya bahwa apa yang Allah telah takdirkan untukku, maka itu akan menjadi milikku, dan apa yang Allah takdirkan bukan untuukku maka tak akan sedikitpun akan menjadi milikku. Tentu semua selesai sampai disini, tapi satu hal yang aku khawatirkan, yaitu aku berani mencintaimu tapi tak berani mengikhlaskan dirimu. Karena bila demikian yang terjadi, maka aku telah mewakafkan hatiku dalam jurang duka dan nestapa yang kapan saja akan menyerang dan menolak kebahagiaan datang bercengkrama.

Sahabatku, kenalilah dirimu. Jika kau kenali dirimu maka akan kau kenali cintamu. Jika sudah keduanya, ajaklah hatimu untuk sering berkunjung dalam cahaya Allah, agar cinta hanya akan jatuh pada keimanan dan keagungan Allah, bukan pada mahluk dan kefanaan belaka.

MARS pun Tertawa

from : https://indianexpress.com/article/technology/science/mars-to-come-closest-to-earth-in-15-years-july-27-nasa-5222705/

Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Kerumunan orang yang biasanya berkumpul dalam satu ruangan ini, ntah apa saja yang dilakukannya, membuat sedikit riuh tapi juga penuh dengan warna. Dari sekedar candaan sampai dengan bullian. Semua terasa begitu lengkap. Tapi tidak untuk malam ini.

Di luar, bulan begitu malu-malu mau menampakkan cahayanya. Bintang masih begitu riuh beracakap dan berbisik. Seolah menggosip setiap apa yang mereka lihat saat melewati hari demi hari. Malam ini bintang venus hanya nampak sampai pukul 20.00 WIB saja. Cahaya-nya cukup mentereng dibandingkan yang lain. Meski sebenarnya venus adalah planet yang dekat dengan bumi, di mataku semua terlihat sama di langit, bintang berkedip nakal mengejek dan membentuk pola yang ntah aku suka atau membecinya, tapi dia selalu saja membuat bibir ini mengernyit dengan sebongkah luka hati.

Tiba-tiba saja angin menghembus, membelai lembut. Memanjakan? tidak, mungkin hanya ikut mengejek. Agaknya semesta alam tahu, hati ini berkabung untuk apa yang tak pernah terjadi. Payahnya lagi itu adalah suratan yang tinggal menghitung tanggal. Yah, setidaknya begitu sejak kabar bahagia itu datang dari uluran tangan yang ikhlas. Kabar bahagia ya? harusnya seperti itu, tapi tak sepenuhnya begitu dengan apa yang ada di dalam hati ini. Dia berdiri diantara keduanya, antara rasa bahagia dan asa yang terputus.

Ah, hujan... Hujan di tengah kecerahan malam. Hujan yang hanya ada didalam benak. Mengguyur setiap jengkal rasa yang kering kerontang. Harus ya? Kenapa hujan itu muncul di sela-sela kenikmatan memandangi keindahan. Apakah dia tak lagi memahami keindahan garis-garis yang menghubung antar bintang, menceritakan banyak kisah, juga menyimpan sejuta rahasia. Aku mencoba menolak, tapi bagaimana aku bisa menolak, sedang aku belum bisa berdamai dengan guratan senja, kini fajar ikut menghajar habis, meski matahari tak pernah padam, aku jadi takut dan lebih suka bersembunyi dalam setiap keheningan malam.

Sudahlah, patutkah aku membiarkan planet mars yang khas dengan cahayanya itu terus tertawa mengejekku. Aku ini laki-laki, yang harusnya lebih banyak berfikir dan bertindak, bukan banyak merasa dan tunduk pada cinta. Lihatlah, bahkan nyamuk pun tak mau mendekat untuk menggigitku, mungkin ia iba dan mengerti bahwa sakitku terlalu dalam. Nyamuk tak mau lagi menambah sakit meski hanya satu tusuk saja dan sekedar gatal ringan.  

Biar Aku Perkenalkan Dulu



Aku masih saja duduk di kursi di lantai dua laboratorium teknik kendali teknik elektro universitas lampung. Sudah hampir 2 bulan aku begitu hobi duduk tenang disini. Selain karena internet yang lancar, tapi juga karena harus segera mengerjakan tugas akhir. Tak jarang sampai menginap di sini, malah kadang sengaja datang selepas sholat isya biar nggak ramai di lab. Jika temen-temen yang lain main ke lab karena nggak betah sendirian di kosan, kalau aku di lab nggak betah kalau terlalu ramai, dan sore adalah waktu favoritku nongkrong di lab. Karena waktu menjelang maghrib adalah waktu lab sepi. Pada waktu ini aku bebas mengerjakan apa saja, ya kalau tidak sedang mengerjakan skripsi ya menulis cerita apa saja, atau bisa main game, menonton film, pokoknya suka-suka lah.

Setidaknya yang paling setia sama lab ada 2 sampai 3 orang, pertama ada kakak tingkatku sebut saja namanya riyan dan juga teman satu angkatan ku sebut saja dulloh. Tapi si dulloh udah jarang lagi minep dan mantengi lab, karena memang skripsi nya sudah selesai, kecuali sedikit saja revisi dan mengurus berkas lain-lain itulah, urusan birokrasi kampus. Kalau kak riyan, masih sibuk mengurus alatnya, baik dari laporan, program, ah banyak pokoknya, malas aku ngejelasinnya. Aku sendiri masih pejuang awal skripsi, alias masih berusaha mengejar seminar proposal. Gitu aja udah banyak yang reseh, nanyain kapan lulus, yang paling reseh lagi nanyain kapan nikah. Tapi kedua pertanyaan itu kadang-kadang jadi guarauan kalau lagi suntuk-suntuknya ngerjain skripsi.


Kalau ditanya kenapa baru ngerjain skripsi, tentu alasannya bukan karena aku banyak ketinggalan matakuliah. Bisa di bilang aku ini mahasiswa yang tidak terlalu pintar tapi nilai masih tingkat B ke atas lah. aku biasanya bilang kalau di tanya "kok nggak cepet-cepet ?", jawabnya "nyantai, masih banyak yang di urusin, yang penting dikerjain". Yap, memang benar dikerjain, tapi jalannya kayak bekicot. Atau kaya cheetah, tapi lagi tidur, alias nggak jalan, mandek. Cuma beberapa waktu belakangan ini, udah kena tegur. Baik dari orang tua juga beberapa temen. Aku juga masih aktif di beberapa organisasi kampus juga luar kampus, tapi masih sebatas organisasi mahasiswa. Bahkan masih duduk di posisi penting. Kalau di bilang sibuk, menurut ku tidak, soalnya masih sempet main game, jalan, tidur, bahkan uget-uget. Tapi kalau dibandingin sama yang lain, terutama teman seangkatan di kampus yang pada ngerjain skripsi, aku sih katanya sibuk.

Ada banyak alasan kenapa aku masih aktif diberbagai organisasi dan mau duduk diposisi penting, yang jelas karena posisi penting itu memiliki banyak keuntungan, yaitu makin kenal banyak orang dan jaringan semakin luas. Tapi juga tanggungjawab yang besar, karena bagaimana kita bertingkah, tak hanya nama kita yang baik atau buruk, tapi juga nama organisasi secara tak langsung ngikut ke kita. Alasan lain, adalah untuk menyibukkan diri dengan banyak kegiatan, terutama kegiatan yang bermanfaat, dan referensiku biar bisa bermanfaat hidupnya ya belajar dari organisasi dulu. Sebenarnya, jika aku mengerjakan skripsi dengan sungguh-sungguh, dan ikut organisasi sebagai peramai saja, tak masalah, itu juga sudah cukup untuk menyibukkan diri, tapi tentu karena hal lain yang perlu ditutupi dengan banyak beramal.


Sesaat hatiku terasa ngilu, bekas luka itu masih ada. Luka rasa, terasa remuk untuk hal-hal yang tak perlu. Kenyataannya, soal rasa aku payah. Jika ku ingat-ingat aku beberapa kali menyukai seorang perempuan dan selalu berusaha menjadi secreet admirer, tapi ujungnya tetep saja nyampaiin perasaan. Kalau tidak langsung ya lewat baris-baris kata. Tapi tentu, karena tak ada tindakan nyata kayak di film-film romantis, ya ujung-ujungnya kandas. Tapi bukan aku yang tak mau romantis, tapi kadang nalar ini masih waras, untuk tidak berpacaran setelah paham kalau pacaran itu dilarang. Tapi hati ini masih saja nakal, coba-coba mencintai kepada selain Allah, padahal udah berapa kali membuktikan kalimat " Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia". Kalau dari buku, itu kata-kata dari sayyida Ali bin Abu Thalib, seorang pemimpin umat , dan salah satu dari 4 khulafaurrasyidin. Tentu, tingkatannya berbeda, kalau aku mah berharap cuma masalah perasaan, atau kalau beberapa tahun lalu tren dengan nama cinta monyet. Kalau beliau tentu berbeda, karena tak akan sempat lagi mikirin begituan.

Sudah berapa kali ya, kandas? Ntar aku hitung dulu. Nggak banyak sepertinya, hanya saja beberapa akhir kemarin emang agak bergejolak lagi, setelah sedikit lama terbiasa dan sepakat dengan persepsi "kalau rasa itu pasti ada dan semua orang juga pasti pernah, tapi mereka berbeda dalam menyikapinya. Orang hebat bukan berarti dia tak pernah merasakan perasaan kecewa seperti kita, mungkin malah pengalamannya lebih pahit. Tapi mereka memilih bersikap hebat.", artinya aku belum hebat, karena mengambil sikap-sikap yang mungkin masih di bilang ke kanak-kanakkan. Tapi yang jelas kali ini aku benar-benar terlelap dalam ilusi. Kedekatan yang terbangun karena situasi dan kondisi, dalam kelas yang sama, dan pertemuan yang ajek, telah menciptakan rasa-rasa. Aku tidak akan mengatakan bahwa itu cinta, tapi yang jelas itu soal rasa. Karena cinta tak boleh lagi bersandar pada hal yang rendah, cinta tak boleh menetap di bumi. Karena sejatinya yang ada saat ini adalah sementara, dan pada saatnya akan kekal tetapi dalam dunia yang berbeda.


***

Dia [Sisi Lain Dalam Hidupku]



Siang itu cukup terik, tapi angin bergerak begitu lembut juga ranting pohon seperti ingin memayungi setiap mahluk hidup yang ada dibawahnya. Namun ada seorang laki-laki duduk termenung dipinggiran tanggul. Mukanya sedikit muram. Tapi sesaat kemudian cerah kembali namun tak lama kemudian kembali muram.

Ntah apa yang sedang dipikirkannya, aku hanya mengamati dari balik jendela gedung laboratorium 3 lantai, dan aku berada di lantai dua.

masih di waktu yang sama, sudah lebih dari setengah jam aku beberapa kali mengecek keluar jendela, laki-laki itu masih saja berada disana termenung, sesaat muram sesaat kemudian mukanya cerah.

Mungkin saja dia sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, saat muramnya mungkin sebuah sesalnya kenapa harus kehilangan dan saat cerahnya mungkin dia sadar bahwa Allah senantiasa berada bersamanya. Namun hatinya belum bisa sepenuhnya bisa menerima.

Dalam beberapa hal, memang tak sederhana menerima kehendak jika harapan itu belum bisa gantungkan sepenuhnya kepada yang Maha Berkehendak. Ia butuh waktu untuk kembali menguatkan tauhidnya.

Aku jadi mengingat perkataan bijak dari seorang pemimpin umat ini "Aku sudah pernah merasakan begitu banyak kepahitan, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia".

Entah bagaimana aku begitu mudah merelakan hal lain yang menurut orang lain begitu penting tapi tidak untuk yang satu ini. Agaknya, Allah berkehendak lain yang lebih baik, teatapi hati ini tak kunjung mau keluar rumah karena derasnya hujan diluar. Ia nya lupa membawa payung dan juga enggan berteduh padahal sama saja, bangunan itu tanpa atap.

huuufffttt... Aku menghela nafas, ragaku memang sedang beraktifitas disini, tapi rasaku tak kunjung bergerak dan termenung ditepian sana. Ah, sudahlah. Kehidupan akan tetap berjalan tanpa menunggumu kembali baik dengan rasamu. Biarkanlah ia sejenak sampai ia menemukan lagi jalannya. Amalmu tetap kerjakan..